Jawa Pos Radar Madiun - Peta pergerakan industri kreatif dan ekosistem musik independen tanah air kembali dikejutkan oleh lahirnya sebuah entitas baru yang membawa konsep pergerakan cukup radikal.
Kolektif musik teranyar bernama SIDE B resmi diperkenalkan ke publik bukan sebagai proyek nostalgia yang menengok ke belakang, melainkan sebuah wadah kreatif yang jujur dan liar.
Band ini dengan tegas menolak romantisme reuni maupun wacana comeback usang, dan memilih fokus menjadi ruang baru bagi ide-ide yang selama ini terkungkung dalam format lama.
Formasi yang diusung oleh SIDE B terasa sangat hidup karena berhasil mempertemukan kembali para alumni legendaris band Thirteen dengan energi penuh formasi mereka di tahun 2009 silam.
Langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi perkembangan industri hiburan dan musik cadas domestik yang membutuhkan dobrak inovasi segar tanpa bayang-bayang masa lalu.
Baca Juga: Singgah di Kota Pendekar, Rockin Surabaya Showcase Panaskan Skena Musik Lokal
Kembalinya Raynard dan Penghormatan Sunyi untuk Almarhum Adit
Sorotan utama dari lahirnya kolektif baru ini tentu saja jatuh pada kembalinya sosok Raynard, sang vokalis ikonik yang akhirnya muncul kembali ke permukaan bumi.
Raynard tercatat telah menjauh dari ingar-bingar skena musik independen selama hampir tiga belas tahun sebelum akhirnya memutuskan turun gunung bersama SIDE B.
Kehadiran sang vokalis di atas panggung bukan sekadar simbol pemanis semata, melainkan bertindak sebagai pemantik yang menghidupkan kembali bara lama dalam bentuk yang sepenuhnya berbeda.
Menariknya, proyek siber musik ini awalnya bermula dari hal yang sangat sederhana, yakni obrolan santai antara Dicky dan Rudye yang perlahan berubah menjadi momen reflektif.
Dari diskusi tersebut, lahir keinginan kuat untuk merayakan dua dekade perjalanan Thirteen di industri musik, sekaligus menjadi sebuah penghormatan sunyi bagi almarhum Adit selaku drummer pertama mereka.
Baca Juga: Bola Resmi Piala Dunia 2026 Diproduksi di Madiun, Dilengkapi Teknologi Connected Ball
Suguhkan Aransemen Dingin Dibalut Atmosfer Horor Pekat
Sebagai marka penanda langkah awalnya di belantika musik, SIDE B langsung menggebrak lewat perilisan draf lagu berjudul “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom”.
Namun, alih-alih sekadar mendaur ulang karya lama untuk menarik perhatian instan dari para penggemar lawas, lagu ini sengaja dihadirkan sebagai bentuk reinterpretasi total.
Struktur dasar dari versi aslinya memang sengaja tetap dipertahankan oleh tim produksi, dalam porsi yang cukup untuk menjaga identitas lagu agar tetap mudah dikenali.
Tetapi di tangan dingin personel SIDE B, komposisi lagu ini menjelma menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin, gelap, berjarak, serta dibalut atmosfer yang nyaris menyerupai nuansa horor pekat.
Lagu “Cherry Petite Raspberry: The Last Bloom” bukan hanya sebuah rilisan pembuka, melainkan menjadi deklarasi keras bahwa SIDE B siap melangkah ke fase baru yang lebih berani dan berbahaya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani