In Inertia Rilis Unfamiliar Weather, Perjalanan 24 Komposisi yang Saling Terhubung

Dani Erwanto • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:42 WIB
In Inertia merilis Unfamiliar Weather, album kedua berisi 24 komposisi yang membawa pendengar menyusuri perubahan dan penerimaan.
In Inertia merilis Unfamiliar Weather, album kedua berisi 24 komposisi yang membawa pendengar menyusuri perubahan dan penerimaan.

Jawa Pos Radar Madiun – Ketika kebiasaan menikmati musik semakin bergeser menuju lagu-lagu pendek dan playlist yang diputar acak, In Inertia justru menawarkan pengalaman berbeda.

Duo ambient post-rock asal Jakarta tersebut menghadirkan album kedua bertajuk Unfamiliar Weather sebagai satu perjalanan panjang yang dirancang untuk dinikmati secara utuh.

Bukan album yang sekadar menghimpun sejumlah lagu, Unfamiliar Weather berisi 24 komposisi yang dibuat saling terhubung.

Setiap bagian membawa pendengar berpindah dari satu atmosfer menuju atmosfer lainnya sembari menelusuri tema perubahan, kehilangan, penerimaan, hingga keberanian menghadapi sesuatu yang asing.

Konsep tersebut menjadikan Unfamiliar Weather sebagai karya yang meminta waktu dari pendengarnya.

Alih-alih melompat dari satu lagu ke lagu lain, album ini menawarkan pengalaman mendengarkan dari awal hingga akhir untuk menangkap perjalanan yang dibangun In Inertia.

24 Komposisi dalam Satu Perjalanan

Secara musikal, album In Inertia tersebut bergerak melintasi berbagai lanskap suara. Ambient dan post-rock menjadi fondasi, kemudian bersinggungan dengan shoegaze, elektronik, piano, serta elemen sinematik.

Perpaduan itu menciptakan atmosfer luas sekaligus mendalam. Setiap komposisi seperti menjadi ruang tersendiri, tetapi tetap memiliki hubungan dengan bagian sebelum dan sesudahnya.

Pendekatan tersebut membuat Unfamiliar Weather terasa seperti perjalanan dengan cuaca yang terus berubah. Pendengar dibawa memasuki suasana berbeda secara perlahan tanpa kehilangan benang merah yang mengikat keseluruhan album.

Album Berskala Besar yang Lahir dari Sebuah Kamar

Di balik cakupan musikalnya yang luas, proses pengerjaan Unfamiliar Weather justru berlangsung sederhana.

Seluruh materi album dikerjakan secara mandiri dari sebuah kamar tanpa mengandalkan studio rekaman profesional.

Keterbatasan itu tak menghalangi In Inertia membangun dunia musikal yang besar.

Sebaliknya, proses tersebut memberikan karakter tersendiri pada album sekaligus memperlihatkan bagaimana musik independen dapat berkembang dari ruang produksi yang sederhana.

In Inertia turut menggandeng Reruntuh, Gardika Gigih, Niskala, dan Kazuma Okabayashi. Kolaborasi tersebut memperkaya warna album sekaligus memperluas lanskap suara yang dibangun sepanjang 24 komposisi.

Menawarkan Pengalaman Mendengarkan secara Utuh

Pada akhirnya, Unfamiliar Weather menawarkan sesuatu yang semakin jarang ditemukan di tengah pola konsumsi musik serba cepat: kesempatan untuk berhenti dan benar-benar mendengarkan.

In Inertia tidak sekadar mengajak pendengar menikmati masing-masing komposisi secara terpisah.

Mereka membangun sebuah perjalanan tentang perubahan dan penerimaan, kemudian memberikan ruang agar pendengar dapat menemukan pengalaman masing-masing di dalamnya.

Unfamiliar Weather pun bukan hanya album untuk diputar.

Karya ini menjadi perjalanan panjang yang meminta pendengarnya menyelami setiap perubahan suasana, membiarkan musik bergerak perlahan, hingga akhirnya tiba di tempat yang mungkin sebelumnya terasa asing. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
hallam foe masa la nina Malang video musik indie