Jawa Pos Radar Madiun – Memilih kehancuran yang sudah dikenal ketimbang menghadapi ketidakpastian. Gagasan kelam itu menjadi nyawa Poison I Prefer, amunisi terbaru CONSVRGE yang dilepas pada 10 Agustus 2026 melalui Basetone Records.
Single tersebut sekaligus membuka babak baru unit metallic hardcore asal Kabupaten Nganjuk tersebut.
Selepas album penuh perdana Endless Worshiper pada penghujung 2024, CONSVRGE kini menjadikan Poison I Prefer sebagai gerbang menuju EP terbaru yang tengah memasuki tahap akhir pengerjaan.
Bukan sekadar rilisan pengisi jeda, Poison I Prefer menunjukkan arah musikal CONSVRGE yang semakin gelap, berat, dan agresif. Mereka mempertahankan akar heavy hardcore sembari mengeksplorasi karakter bunyi yang lebih pekat.
Memilih Racun dengan Kesadaran Penuh
Secara tematik, Poison I Prefer berbicara mengenai manusia yang sadar sebuah pilihan akan menyakitinya, tetapi tetap berjalan menuju pilihan tersebut. Rasa sakit yang familier dianggap lebih mudah dikendalikan dibanding ketidakpastian dari sesuatu yang belum dikenal.
Narasi tersebut tidak menempatkan karakter dalam lagu sebagai korban yang meminta diselamatkan. Sebaliknya, CONSVRGE menggambarkannya sebagai sosok yang menyadari konsekuensi pilihannya dan menerima kehancuran itu dengan mata terbuka.
Drummer sekaligus penulis lagu CONSVRGE, Bandhu Manhistha, menyebut gagasan tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap kecenderungan manusia terjebak dalam rasa sakit yang diciptakannya sendiri.
“Secara ide awal dan penulisan lagu, Poison I Prefer berangkat dari pengamatan mendalam tentang bagaimana manusia sering kali terjebak dalam rasa sakit yang dibuatnya sendiri. Ada masa di mana kita sadar sepenuhnya bahwa pilihan yang kita ambil itu merusak, tapi kita tetap melangkah ke sana karena rasa sakit itu terasa lebih nyata dan bisa kita kontrol dibanding rasa takut akan hal yang tidak pasti,” ungkap Bandhu.
Konsep tersebut turut diterjemahkannya melalui permainan drum. Alih-alih hanya mengejar kecepatan, Bandhu membangun tekanan dan dinamika yang terus terjaga sepanjang lagu.
“Di departemen drum, saya ingin ketukan lagu ini tidak cuma sekadar kencang, tapi punya bobot dinamika yang konstan menekan dari awal sampai akhir—seperti detak jantung seseorang yang sedang mengambil keputusan berbahaya tanpa ragu. Bakal berat, gelap, dan langsung menghantam tepat di dada,” lanjutnya.
Baca Juga: Salut! Bhima Dance Crew Suarakan Karhutla Kalimantan di AQUA DBL Dance 2026 East Java-West
Agresi Dingin dari Vokal hingga Distorsi
Karakter itu diperkuat vokalis CONSVRGE, Deva Yoga. Dia memilih pendekatan vokal agresif dan mentah untuk menerjemahkan kemarahan yang tidak meledak tanpa arah, melainkan lahir dari penerimaan terhadap konsekuensi pilihan sendiri.
“Di penulisan performa vokal untuk single ini, saya tidak ingin memosisikan karakter vokal sebagai sosok yang merengek atau minta kasihan. Lagu ini adalah tentang kemarahan yang dingin dan penerimaan penuh atas kehancuran diri sendiri,” kata Deva.
“Saat masuk bilik rekaman, saya mengambil pendekatan penyampaian yang lebih agresif, raw, dan penuh penekanan di tiap artikulasi. Saya ingin siapa pun yang mendengar lagu ini bisa merasakan bahwa ini adalah teriakan seseorang yang memegang kendali atas takdir penderitaannya sendiri. Tidak ada ruang untuk menyalahkan orang lain di sini,” sambungnya.
Sementara gitaris Aldi Tri Bayu membawa Poison I Prefer menuju atmosfer lebih pekat dibandingkan materi dalam Endless Worshiper. Riff berat disusun untuk membangun ketegangan sebelum mencapai ledakan pada bagian breakdown.
“Riff-riff yang saya susun di single ini sengaja dirancang untuk membangun atmosfer yang mencekam dari awal sebelum akhirnya meledak di bagian breakdown. Kami mengeksplorasi tone gitar yang lebih sludgy, tebal, dan menusuk untuk memberikan fondasi nada yang rapat,” jelas Aldi.
CONSVRGE Siapkan Ledakan Berikutnya
Lapisan bawah Poison I Prefer diperkuat permainan bass Tatar Guruh. Bass tidak hanya ditempatkan sebagai pengisi frekuensi rendah, tetapi menjadi penghubung antara gebukan drum dan agresi gitar.
“Karakter bass di Poison I Prefer diatur dengan distorsi gurih yang agak kotor untuk menjaga tempo agar tetap terasa pekat dan mengintimidasi. Kami ingin menciptakan instrumen yang membuat lantai dansa langsung riuh dan pekat saat lagu ini dibawakan secara live,” tutur Tatar.
Poison I Prefer juga menandai langkah baru CONSVRGE bersama Basetone Records. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperluas distribusi karya sekaligus membawa musik keras yang tumbuh dari Nganjuk menjangkau pendengar lebih luas.
Single ini baru menjadi pintu masuk. EP terbaru CONSVRGE tengah dipersiapkan dengan eksplorasi tema dan musikal yang diklaim lebih matang serta kohesif, tetapi tetap mempertahankan karakter heavy hardcore mereka.
Poison I Prefer kini tersedia di sejumlah platform digital, termasuk Spotify, Apple Music, Bandcamp, dan YouTube Music. Setelah perjalanan yang dimulai lewat Endless Worshiper, rilisan terbaru ini menjadi sinyal bahwa CONSVRGE belum berniat mengendurkan agresinya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani