RAW BLUE Debut lewat Numb To Everything, Menyelami Rasa Mati Rasa dalam Empat Lagu

Dani Erwanto • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 16:02 WIB
RAW BLUE merilis EP debut Numb To Everything.
RAW BLUE merilis EP debut Numb To Everything.

Jawa Pos Radar Madiun – Mereka datang dari hardcore dan punk, tetapi memilih tidak mengulang suara yang sudah familier. RAW BLUE justru mengambil jalan berbeda dengan menyelami shoegaze, alternative rock, dan slowcore untuk membicarakan keresahan hingga rasa mati rasa.

RAW BLUE merupakan proyek baru yang dihuni nama-nama yang sebelumnya telah malang melintang di skena musik independen. Kuartet ini beranggotakan Kornelius Kevin (No Excuse), Chaidir Fadli Rahman (Twisted Games), Ghani Noorputrawan (Frack/Walk Fearless), serta Herbert Widodo (The Brandals/Cold Skin).

Pertemuan empat musisi dengan latar belakang berbeda itu melahirkan ruang eksplorasi baru. Alih-alih kembali memainkan formula hardcore dan punk yang lekat dengan sebagian proyek mereka sebelumnya, RAW BLUE memilih membangun karakter musikal yang lebih atmosferik.

Pilihan tersebut mendapatkan bentuk pertamanya melalui EP debut Numb To Everything. Rilisan itu resmi dilepas pada 21 Agustus 2026 melalui Haum Entertainment dan tersedia di berbagai platform streaming digital.

Numb To Everything menjadi wadah bagi gagasan musikal yang sebelumnya sulit mendapatkan tempat di band masing-masing personel. Ide yang terlalu berbeda, lebih personal, maupun membutuhkan pendekatan musikal lain akhirnya memperoleh rumah baru melalui RAW BLUE.

EP debut RAW BLUE tersebut hanya memuat empat lagu, yakni “Chronic Blue”, “Numb to Everything”, “Boiled Love”, dan “Guillotine”. Format ringkas itu justru membuat gagasan yang mereka bawa terasa lebih terkonsentrasi.

Salah satu karakter yang menonjol adalah penggunaan gitar bertekstur dreamy. Melodi dan penulisan lagunya bergerak dalam atmosfer murung, sementara aransemennya sengaja tidak dibuat terlalu padat.

Ruang-ruang kosong dalam aransemen menjadi bagian penting dari Numb To Everything. Setiap instrumen diberi kesempatan untuk membangun atmosfer tanpa harus saling berebut menjadi pusat perhatian.

Perpaduan shoegaze, alternative rock, dan slowcore kemudian menjadi lanskap bagi keresahan yang dibawa RAW BLUE. Musiknya terdengar berkabut dan murung, tetapi tetap menyimpan intensitas yang berakar dari pengalaman musikal para personelnya.

Baca Juga: LISA BLACKPINK Rilis “SaWaDiKa”, Rap Penuh Percaya Diri Jadi Pembuka Era Baru

Sekilas, judul lagu dan atmosfer yang dibangun dapat membawa pendengar pada cerita tentang patah hati. Namun, Numb To Everything tidak semata-mata berbicara mengenai hubungan romantis.

EP ini lebih banyak mengarahkan sorotan pada hubungan seseorang dengan dirinya sendiri.

Tentang keresahan personal hingga kondisi ketika berbagai hal yang terjadi di sekitar perlahan tidak lagi menghasilkan respons emosional yang sama.

Dalam konteks tersebut, “mati rasa” menjadi pintu untuk membaca keseluruhan rilisan. Bukan sekadar kehilangan perasaan terhadap orang lain, melainkan pergulatan internal ketika seseorang berhadapan dengan dirinya sendiri.

Pilihan musikal RAW BLUE membuat tema tersebut terasa semakin kuat. Lapisan gitar yang dreamy dan atmosfer murung tidak ditempatkan sekadar sebagai estetika, tetapi menjadi bagian dari suasana emosional yang menyelimuti empat lagu dalam EP.

Numb To Everything pada akhirnya menjadi perkenalan RAW BLUE sekaligus penanda arah yang ingin mereka tempuh. Empat musisi yang telah memiliki jejak di band masing-masing memilih memulai kembali dari ruang yang berbeda.

Bukan dengan meninggalkan sepenuhnya pengalaman musikal masa lalu, melainkan menggunakannya sebagai pijakan untuk mengeksplorasi sisi yang sebelumnya belum banyak mendapatkan tempat. Dari sana, RAW BLUE memperkenalkan diri melalui musik tentang keresahan, ruang personal, dan rasa mati rasa. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
shoegaze the brandals raw blue numb to everything slowcore