Jawa Pos Radar Madiun - Penantian panjang para penggemar musik keras selama lebih dari satu dekade akhirnya terbayar lunas.
Unit metal independen kenamaan, Avhath, resmi meluncurkan single teranyar mereka yang bertajuk “Amassed” pada Kamis (10/9).
Lagu tersebut didapuk sebagai gerbang utama menuju kelahiran album penuh perdana mereka pada 9 Oktober mendatang, setelah 14 tahun konsisten malang melintang.
Baca Juga: Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia Hadapi Singapura di Match Pertama
Eksplorasi Tema Parasit di Sembilan Lagu
Mengusung judul self-titled atau Avhath, album ini membawa sebuah gagasan konseptual yang sangat berani dan unik.
Mereka sepakat mengangkat tema besar mengenai "parasit" sebagai fondasi narasi utamanya.
Meskipun setiap trek berdiri sendiri dengan alur cerita dan sudut pandang berbeda, semuanya tetap terikat kuat.
Benang merah konsep "parasit" tersebut sukses menyatukan total sembilan lagu menjadi satu kesatuan karya yang utuh dan kelam.
Pendalaman narasi di dalam karya ini terasa sangat intim sekaligus personal bagi para personelnya.
Hal ini dikarenakan seluruh penulisan lirik lagunya dikerjakan secara eksklusif oleh sang vokalis, Ekrig.
Keterlibatannya membuat terjemahan konsep parasit ke dalam masing-masing cerita terasa lebih berkarakter, gelap, dan tajam.
Baca Juga: Drizzly Makin Berkabut di Single How Do I Even Try, Dream Pop Bertemu Shoegaze
Produksi Mandiri tanpa Menanggalkan Jati Diri
Dari balik meja studio, Avhath sepakat untuk mengambil jalur pengerjaan produksi yang serba mandiri.
Sang gitaris, Rey, mengambil alih kemudi dan dipercaya langsung sebagai produser utama untuk keseluruhan rekaman ini.
Keterlibatan langsung dari pihak internal band memberikan keleluasaan tak terbatas bagi ruang eksplorasi mereka.
Pendekatan ini memastikan arah suara (sound) yang dihasilkan tidak pernah melenceng dari visi utama bermusik mereka.
Secara musikalitas, album Avhath menolak keras untuk hanya bersembunyi di balik formula usang masa lalu.
Mereka menyuntikkan berbagai sentuhan teknis modern agar produksinya terdengar jauh lebih segar.
Meski begitu, Avhath berjanji tidak akan pernah menanggalkan karakter musik mentah atau rawness yang telah menjadi identitas mereka.
Karya ini pada akhirnya menjadi titik temu yang sempurna antara evolusi musikal dan upaya menjaga DNA asli band.
Baca Juga: Suzuki Baleno Hatchback Bangkit Lagi, Bawa Mesin Swift dan Harga Rp 113 Jutaan
Misteri Visual Sampul dan Perilisan Rilisan Fisik
Tidak hanya memanjakan telinga, eksplorasi visual pada sampul rekaman ini juga menyimpan cerita magis tersendiri.
Pengerjaan potret utama untuk sampul dipercayakan kepada seniman visual, Yogi Kusuma.
Ia menggunakan karya jepretannya berupa foto lampu gantung (chandelier) klasik yang diambil pada tahun 2021 silam.
Menariknya, bentuk lekukan lampu gantung tersebut secara sekilas justru terlihat menyerupai wujud tentakel seekor gurita.
Ilusi visual yang ganjil namun estetik ini dinilai sangat selaras dengan atmosfer gelap dari konsep parasit.
Lebih lanjut, kehadiran lagu “Amassed” benar-benar disiapkan sebagai sebuah pernyataan sikap band setelah jeda yang begitu lama.
Demi memanjakan para pendengar setianya, karya ini dipastikan akan hadir dalam berbagai format rilisan fisik bergengsi.
Avhath bersiap mencetak sejarah baru ini ke dalam bentuk piringan hitam (vinyl) dan juga format kaset pita.
Fakta paling mencolok, versi digital dan rilisan fisik akan melewati proses mastering audio yang sama sekali berbeda.
Taktik teknis ini sengaja dilakukan agar masing-masing format mampu menyajikan karakter sonik atau pengalaman mendengarkan yang eksklusif.
Bagi kancah musik independen, 14 tahun jelas bukan rentang waktu yang singkat untuk sekadar bertahan.
Namun, penantian panjang itu kini dibayar tuntas lewat materi yang matang, liar, dan jauh dari sekadar ajang nostalgia belaka.
Avhath membuktikan bahwa usia justru mendewasakan musikalitas tanpa perlu menjinakkan keliaran distorsi yang selama ini mereka agungkan. (naz)