Mewujudkan itu tentu tidak mudah. Butuh ide-ide brilian. Butuh terobosan jempolan. Menggali ide bisa datang dari mana saja. Referensi bisa datang dari apa yang kita baca, kita lihat, dan kita rasakan. Karenanya, setiap kali keluar negeri, saya sempatkan untuk melihat lebih jauh. Apa yang sekiranya bisa saya tiru dari yang bagus-bagus itu.
Saya sudah ke Korea Selatan akhir 2022 lalu. Jumat lalu (10/2) saya baru kembali dari Tanah Suci. Memang saya niatkan untuk ibadah umrah. Namun, tentu tidak hanya itu. Saya juga menggali ide dari beberapa tempat di sana.
Kota kita memang terus berbenah untuk menjadi yang nomor satu. Bahkan, kalau perlu jangan hanya bermain di tingkat lokal. Namun, harus jadi pemain di skala nasional, bahkan internasional. Untuk itu, kita juga harus banyak melihat dunia luar. Karenanya, setiap ada kesempatan ke luar negeri saya manfaatkan benar.
Setelah lawatan di Korea Selatan dan Tanah Suci itu, saya masih memiliki sejumlah jadwal ke luar negeri lagi. Rencananya, ke Amsterdam, Belanda. Di Negeri Kincir Angin itu saya ingin menelusuri arsip tentang kota kita. Khususnya, arsip tata kotanya. Maklum, sebagian besar bangunan kota kita ini merupakan warisan Belanda.
Satu yang membuat saya tertarik. Banyak yang menyakini adanya lorong bawah tanah di pusat kota kita. Lorong kuno era Belanda itu katanya menghubungkan sejumlah bangunan penting. Mulai balai kota, bakorwil, kodim, sampai di titik nol kilometer di simpang empat tugu.
Beberapa waktu lalu, saya sempatkan meninjau sejumlah titik pintu lorong tersebut. Pertama di balai kota. Kedua di bakorwil. Ada yang bilang, pintu lorong serupa juga ada di kodim. Namun, hal tersebut baru sekadar terkaan. Sebab, peta wilayah terkait adanya lorong itu masih ditelusuri.
Saya optimistis peta itu ada di Negeri Bunga Tulip. Nah, saya ingin memastikan langsung. Penelusuran itu bukan tanpa sebab. Lorong tersebut merupakan aset berharga. Entah seperti apa pemanfaatannya dulu, lorong itu bisa menjadi daya tarik wisata. Lorong akan kita jadikan tempat yang menarik sekaligus sarana edukasi. Tentu saja dengan ditambah penerangan dan sebagainya.
Adanya arsip itu diperkuat dengan yang ada di Jakarta. Saya sempat menelusuri kearsipan di Jakarta dan dimungkinkan ada bangunan lorong itu di bawah tanah. Tetapi, untuk lebih jelasnya kita butuh lebih banyak data lagi.
Semua potensi yang ada di kota kita wajib dioptimalkan. Apalagi, yang bernilai sejarah. Itu bisa menjadi daya tarik tersendiri. Kota kita tidak banyak memiliki sumber daya alam. Karenanya, sekecil apapun potensi yang ada harus dioptimalkan.
Jangan pernah menyepelekan potensi biarpun terlihat tak seberapa. Sebelum menjadi seperti sekarang, kawasan Sumber Umis hanya sebuah sungai untuk pembuangan limbah rumah tangga. Coba lihat sekarang. Banyak yang tertarik datang untuk belajar.
Setiap kali pergi harus yang bermanfaat. Selain ke Belanda, saya juga berencana ke Rumania. Kita sudah ada koordinasi dengan kedutaan di sana. Khususnya terkait porang. Kita memang membudidayakan porang di Ngrowo Bening. Selain itu, juga ada pabrik pengolahan porang di kota kita.
Siapa tahu ada yang bisa dikerjasamakan dengan negara Rumania. Pastinya, ada banyak tempat menarik di sana. Tempat untuk menggali ide untuk kota kita. Pokoknya, setiap pergi harus bermanfaat. Harus membawa sesuatu yang lebih baik dari yang sudah ada.
Bukan hanya soal pembangunan fisik. Tetapi juga pembangunan SDM. Saya juga berencana ke Republik Ceko. Di sana siap menerima mahasiswa kita untuk melanjutkan S2. Saya memang mengharapkan anak-anak Kota Madiun bisa mengenyam pendidikan tinggi. Tidak lagi wajib belajar 12 tahun. Tapi harus sampai perkuliahan. Karenanya, ada beasiswa mahasiswa.
Tahun ini ada 1.000 mahasiswa. Bahkan, sudah ada yang lulus. Nah, mereka yang potensi bisa kita ikutkan ke program pendidikan dengan negara Ceko tersebut. Mudah-mudahan anak-anak kerasan. Di sana negara maju tetapi kekurangan penduduk.
Selanjutnya, ada rencana lawatan ke Jenewa, Swiss. Kalau yang ini terkait IT kita. Sebenarnya, rencana kunjungan ini sudah lama. Namun, tertunda karena pandemi Covid-19.
Kota kita memang mencuri perhatian dunia. Ada semacam perlombaan inovasi di bidang IT dunia. Kota kita masuk lima besar. Saya harusnya ke sana pada 2020 lalu untuk menerima penghargaan. Bagi saya tidak masalah. Yang penting, setiap kunjungan bermanfaat. Harus bisa menggali ide-ide baru yang menjadikan kota kita semakin maju ke depan. Menjadi kota nomor satu di negeri ini. (*/isd)
*) Penulis adalah wali Kota Madiun
Editor : Hengky Ristanto