Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Gus Iqdam, Dikenal Lewat Istilah Dekengane Pusat, Kerap Berdakwah Soal Pentingnya Kerukunan

Budhi Prasetya • Senin, 23 Oktober 2023 | 15:30 WIB

Muhammad Iqdam. (DIMAS MAULANA/JAWA POS)
Muhammad Iqdam. (DIMAS MAULANA/JAWA POS)
 

BLITAR, Jawa Pos Radar Madiun – Wonge yo Teko, dekengane pusat, ST (Sabilu Taubah) Nyell, istilah-istilah yang kerap terdengar dalam dakwah yang disampaikan Muhammad Iqdam atau lebih dikenal dengan Gus Iqdam.

Bahkan, istilah dekengane pusat seolah melekat kental dengan sosok Gus Iqdam. Tak heran jika belakangan muncul tulisan tersebut tercetak di kaos ataupun bak truk sekalipun.

Gus Iqdam saat ini menjadi perbincangan khalayak ramai dan menjadi magnet yang menyedot perhatian publik ke Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Dilansir dari JawaPos.com, ribuan orang dikabarkan kerap hadir dalam rutinan Majelis Ta’lim Sabilu Taubah. Jemaahnya bahkan ada yang datang dari Kalimantan.

Fatimah terharu saat akhirnya bisa menyaksikan langsung dakwah Gus Iqdam pada September lalu.

Sudah sekitar enam bulan sebelumnya, dia rutin melihat YouTube Gus Iqdam yang live streaming setiap Senin dan Kamis malam.

”Tidak pernah absen meskipun hanya dari layar handphone,” ungkap perempuan 25 tahun itu di markas Sabilu Taubah (ST), seperti dikutip dari JawaPos.com.

Demi bisa mendengarkan langsung dakwah Gus Iqdam, Fatimah yang tinggal di Banjarmasin sudah tiba di Blitar sejak sehari sebelum rutinan.

”Menginap di rumah teman,” katanya.

Sama seperti ribuan jemaah ST seumurannya, Fatimah mengenal Gus Iqdam kali pertama dari media sosial (medsos). Dia tidak sengaja melihat cuplikan dakwah yang membahas tentang kerukunan masyarakat.

”Bahasanya sederhana dan langsung ngena banget,” ungkapnya.

Cara Gus Iqdam berdakwah memang berbeda. Memanfaatkan kelekatan masyarakat pada medsos, pendakwah 30 tahun itu sering melontarkan celetukan bernada humor yang kemudian dikemas sebagai konten medsos oleh jemaahnya.

Dari situlah istilah dekengane pusat yang maksudnya adalah campur tangan Tuhan menjadi populer. Demikian juga istilah wonge yo teko yang merujuk pada orang yang karakternya dia bahas dalam dakwahnya.

Dakwah yang dikemas dalam guyonan dan gaya bertutur yang santai itu justru mudah diserap jemaah ST dan masyarakat luas yang mendengarkan dakwah Gus Iqdam.

ST NYELL: Jemaah pria memadati rutinan Majelis Ta
ST NYELL: Jemaah pria memadati rutinan Majelis Ta

Bungsu dari empat bersaudara itu sering menyampaikan pesan-pesan kerukunan dalam dakwahnya karena dia sadar kemajemukan yang ada dalam masyarakat.

Sebagai kelompok mayoritas di Indonesia, menurut Gus Iqdam, umat Islam harus selalu berpedoman pada Alquran dan hadis. Salah satu yang dia sebutkan saat dihubungi Jawa Pos adalah surah Asy-Syura ayat 13.

“Bahwa yang pertama adalah harus menegakkan agama dengan baik, dengan konsep rahmatan lil alamin,” tegasnya. Gus Iqdam menambahkan bahwa umat Islam harus bisa menjadi rahmatnya.

Gus Iqdam juga menegaskan, Islam tidak pernah mengajari umatnya untuk merasa paling benar atau merasa paling istimewa. Karena itu, tidak perlu saling menyombongkan diri.

”Dalam Islam tidak ada ajaran seperti itu,” imbuhnya. Seluruh umat beragama, menurut dia, harus bersatu padu dalam kebaikan.

Jika seluruh umat beragama bersatu, tidak akan ada peluang bagi kekuatan jahat untuk mencerai-beraikannya lewat adu domba. Kerukunan umat beragama, menurut Gus Iqdam, adalah fondasi kuat persatuan bangsa. Sebaliknya, bibit perceraian adalah awal kehancuran bangsa. (ata/c19/hep/sib)

Editor : Budhi Prasetya
#gus iqdam #ST nyell #live streaming #sabilu taubah #dekengane pusat