JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun - Evakuasi pesawat tempur Super Tucano yang jatuh di Pasuruan, pekan lalu, rupanya memakan waktu yang tak sebentar.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Agustinus Gustaf Brugman, Kamis (23/11).
Dikutip dari ANTARA, Gustaf mengatakan bahwa evakuasi pesawat tempur EMB-314 Super Tucano di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, memakan waktu sebulan.
Ada beberapa alasan yang melatari. "Karena medan yang cukup susah. Kurang lebih sebulan baru bisa," katanya, di Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta.
Gustaf juga menjelaskan beberapa kesulitan lain yang dihadapi tim evakuasi. Antara lain, jauh dari jalan raya serta puing pesawat yang cukup besar untuk diangkat.
Cuaca di lokasi jatuhnya kedua pesawat itu juga kerap berkabut. Sehingga menghalangi jarak pandang operasional tim evakuasi di lapangan.
Tim evakuasi tidak bisa langsung mengangkut semua puing dari lokasi itu. Mereka harus memotong puing terlebih dahulu agar mudah diangkat.
Dia mengatakan bahwa beberapa puing pesawat seperti video data recorder (VDR), dan network center data cartridge (NCDC) sudah ditemukan tim evakuasi.
Dia mengaku progres upaya evakuasi tersebut dapat tercapai berkat bantuan warga setempat. "Kita sangat berterima kasih kepada masyarakat yang sudah tulus membantu," kata dia.
Dia berharap, proses evakuasi yang dilakukan tim dibantu warga setempat bisa berjalan secara optimal.
Untuk diketahui, pesawat tempur EMB-314 Super Tucano TNI AU yang memperkuat Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh Malang dibuat oleh Embraer Brazil.
Pesawat itu termasuk dalam pesawat latih lanjut berkemampuan COIN (Counter-Insurgency) atau pesawat antiperang gerilya.
Diberitakan sebelumnya, dua pesawat tempur EMB-314 Super Tucano TNI AU jatuh di Keduwung, Puspo, Pasuruan, pada Kamis (16/11) lalu.
Kedua pesawat dalam misi latihan profisiensi formasi bersama dua pesawat tempur Super Tucano lainnya.
Adapun insiden terjatuhnya dua pesawat bernomor TT-3111 dan TT-3103 itu mengakibatkan empat orang tewas.
Mereka antara lain Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Subhan, Marsekal Pertama TNI (Anumerta) Widiono Hadiwijaya, Kolonel Penerbang (Anumerta) Sandhra Gunawan, dan Letkol Pnb (Anumerta) Yuda A Seta. (ANTARA/naz)
Editor : Mizan Ahsani