Jawa Pos Radar Madiun - Berat nian nasib warga Palestina. Selama perang berkecamuk di Gaza, mereka yang masih bernapas dipaksa mengungsi di kamp.
Selama di kamp, nasib warga Palestina rupanya tak jauh lebih baik. Di sana, penyakit rawan menular ke sesama pengungsi.
Akibat konflik antara pasukan Zionis Israel dengan Hamas yang telah berlangsung sejak awal Oktober lalu, akses bantuan juga tersendat.
Dampaknya fatal. Dikutip dari ANTARA, kondisi kamp pengungsi kini begitu buruk. Penuh sesak oleh pengungsi. Mereka juga kesulitan mendapat air, makanan, dan bahan bakar.
Berbagai hal tersebut lantas menjadi faktor utama peningkatan luar biasa penyakit menular di kamp pengungsi.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO pada Selasa lalu (28/11) mengatakan ada pemberitahuan tren peningkatan penyakit menular di penampungan PBB di Gaza.
Data tersebut didapat WHO mengutip data dari lembaga pengungsi Palestina PBB atau UNRWA. Menurut lembaga tersebut, lebih dari 1,1 juta orang mengungsi di fasilitas UNRWA.
Data menunjukkan peningkatan besar-besaran beberapa penyakit menular.
"Contohnya diare, infeksi pernapasan akut, infeksi kulit, dan kondisi yang berkaitan dengan kebersihan seperti kutu," ungkap juru bicara WHO Margaret Harris, seperti ditulis ANTARA.
Diare, kata Harris, naik 45 kali lipat. Sementara diare berdarah naik 14 kali lipat dibandingkan tahun 2022 lalu.
Jumat lalu, WHO melakukan misi penilaian ke tempat penampungan UNRWA di Gaza utara. Hasil penilaian menyatakan bahwa tempat tersebut kini memprihatinkan.
"Kurangnya pengumpulan sampah di sekitar tempat penampungan, sangat terbatasnya akses terhadap konsultasi medis, tidak adanya obat-obatan, tidak ada vaksinasi."
"Juga tidak ada akses untuk air yang aman dan kebersihan, dan tidak ada makanan," demikian hasil penilaian WHO.
Harris menambahkan, kasus diare pada bayi juga cukup banyak di kamp pengungsi. Sayangnya, tindakan medis tak tersedia bagi bayi-bayi malang tersebut.
WHO juga menjabarkan, ada 35.000 orang yang tinggal dengan penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, kanker, dan hipertensi.
Selain itu, WHO juga menyatakan bahwa ada 50.000 wanita hamil di Gaza. Adapun 5.000 orang di antaranya diperkirakan akan melahirkan bulan depan. (antara/naz)
Editor : Mizan Ahsani