PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Belakangan ini warga Pacitan sedang ramai membicarakan simonida. Platform yang diduga melancarkan scam atau penipuan ini membuat orang rugi.
Bahkan menurut pengakuan beberapa warga Pacitan, ada yang merugi hingga ratusan juta rupiah akibat Simonida.
Berkat iming-iming dolar dengan sekadar memencet tombol like dan subscribe, banyak warga Pacitan yang akhirnya terperdaya oleh Simonida.
Platform ini semula melabeli diri sebagai 'aplikasi penghasil uang'. Tugas pengguna sederhana: menjadi buzzer konten.
Namun sebelum mendapat tugas, pengguna terlebih dahulu diminta deposit dana sekitar USD 1.000 atau setara Rp 15 juta, tergantung nilai tukar.
Setelah itu, pengguna diminta like dan subscribe konten, atau klik iklan, di bermacam media sosial maupun situs internet. Setelah itu, baru diberi imbalan oleh pihak platform tersebut.
Seorang warga Pacitan yang enggan menyebutkan namanya mengaku pernah mendapat penghasilan dari Simonida.
Sayangnya, uang yang didapat tak sebanding dengan deposit yang disetorkan.
"Biasanya dalam 24 jam, dolar ditransfer ke rekening exchange (tukar mata uang), tapi ini tidak ditransfer dan akhirnya dinyatakan scam,’’ kata salah seorang sumber.
Sumber tersebut juga mengatakan bahwa banyak warga Pacitan lain yang merugi. Bahkan hingga ratusan juta rupiah.
Simonida diduga melancarkan praktik scam dengan skema ponzi lantaran penggunanya diminta menyetorkan deposit. Namun akhirnya, uang tak pernah kembali utuh.
Salah satu konsultan keuangan yang gencar mengedukasi mengenai dugaan praktik scam Simonida adalah Roy Shakti.
Roy Shakti bahkan tak segan menuding aplikasi ini dibuat oleh scammer asal Tiongkok.
Melalui akun media sosialnya @royshakti Roy acap menyampaikan bahwa platform ini melancarkan praktik scam, namun terbungkus dengan rapi.
Guna membuat orang percaya, Simonida tak hanya menggandeng public figure untuk promosi. Mereka juga memberi bantuan sosial di berbagai daerah.
Namun per 19 Desember lalu, Roy menyebut bahwa Simonida mulai 'angkat kaki' alias membawa kabur uang para korban.
Dia mengunggah beberapa tangkapan layar berisikan informasi mengenai penutupan operasional Simonida.
''Kasihan gw sm pemuja media simonida. Polos gk ngerti apa apa di kibulin ponzi," tulisnya dalam salah satu unggahan.
Platform seperti ini juga sempat mendapat sentilan dari Otoritas Jasa Keuangan atau OJK karena melabeli diri sebagai 'aplikasi penghasil uang'.
"Sobat OJK, menghasilkan uang dengan mudah memang sangat menggiurkan. Namun hati-hati terhadap penawaran yang mengatasnamakan OJK. Sobat perlu tahu nih, kalau OJK tidak pernah memberikan izin ke aplikasi penghasil uang," tulis OJK di akun resmi @ojkindonesia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani