Jawa Pos Radar Madiun –Garuda Indonesia tengah jadi perbincangan seiring viralnya sosok John Garuda Putra yang mendapat fasilitas terbang gratis seumur hidup dari maskapai tersebut.
Bagaimana sejarah berdirinya maskapai Garuda Indonesia?
Dikutip dari laman resmi Garuda Indonesia, berdirinya maskapai ini bermula dari momen penting pada 21 Desember 1949.
Yakni, perundingan lanjutan dari hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) antara pemerintah Indonesia dengan maskapai KLM –maskapai pemerintah Belanda- mengenai berdirinya sebuah maskapai nasional.
Presiden Soekarno memilih “Garuda Indonesian Airways” (GIA) sebagai nama maskapai ini.
Dalam mempersiapkan kemampuan staf udara Indonesia, KLM bersedia menempatkan sementara stafnya untuk tetap bertugas sekaligus melatih para staf udara Indonesia.
Karena itulah pada masa peralihan ini Direktur Utama pertama GIA merupakan orang Belanda, Dr. E. Konijneburg.
Armada pertama GIA pertama pun merupakan peninggalan KLM-IIB.
Sehari setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia (RI) oleh Belanda atau pada 28 Desember 1949, dua buah pesawat Dakota (DC-3) berangkat dari Bandara Kemayoran Jakarta menuju Jogjakarta untuk menjemput Soekarno yang sekaligus menandai perpindahan kembali ubu kota RI ke Jakarta.
Sejak saat itulah GIA terus berkembang hingga dikenal sekarang sebagai Garuda Indonesia.
Pada 1950, Garuda Indonesia menjadi perusahaan negara. Pada periode tersebut, Garuda Indonesia mengoperasikan armada dengan jumlah pesawat sebanyak 38 buah.
Perinciannya, 22 unit DC-3, Catalina (8), dan Convair 240 (8). Armada Garuda Indonesia terus bertambah dan akhirnya berhasil melaksanakan penerbangan kali pertama ke Makkah membawa jemaah haji asal tanah air pada 1956.
Pada 1965, untuk kali pertama Garuda melakukan penerbangan ke Eropa dilakukan dengan Amsterdam sebagai tujuan terakhir.
Garuda Indonesia saat ini melayani lebih dari 60 destinasi di luar negeri maupun domestik.
Garuda Indonesia Group mengoperasikan 210 armada pesawat sebagai jumlah keseluruhan dengan rata-rata usia armada di bawah lima tahun.
Adapun Garuda Indonesia sebagai mainbrand saat ini mengoperasikan sebanyak 142 pesawat. Sedangkan Citilink mengoperasikan 68 armada. (isd)
Editor : Wawan Isdarwanto