Jawa Pos Radar Madiun - Nama Kho Ping Hoo tak asing bagi pecinta cerita silat di Indonesia.
Karya-karyanya yang sarat petualangan, kebijaksanaan, dan filsafat hidup masih melekat di ingatan pembaca setianya.
Di tengah gencarnya era digital, masihkah generasi muda mengenal sosok dan karyanya?
Kampung Mertokusuman RT 2, RW 7, Kelurahan Gandekan, Kecamatan Jebres, Solo, siang itu tampak lengang.
Meski berada di jantung perekonomian Kota Solo, suasana di permukiman ini berbeda dengan hiruk-pikuk di sekitar Pasar Gede yang tak pernah sepi.
Gang-gang sempitnya hanya dilalui segelintir pengendara motor yang sesekali melintas.
Di antara deretan rumah itu, terdapat sebuah bangunan bersejarah: kediaman Asmaraman Kho Ping Hoo, maestro cerita silat (cersil) Indonesia.
Rumahnya bercat putih dengan aksen jendela kayu berwarna cokelat tua, berpadu dengan suasana klasik khas rumah-rumah lama di Solo.
Di bagian depan, halaman kecilnya terdapat tanaman hijau yang memberikan kesan teduh. Di tembok depan, sebuah spanduk besar berukuran 3x4 meter menarik perhatian.
Bertuliskan “Sarasehan Budaya Kearifan Lokal Cerita Silat Karya Asmaraman Kho Ping Hoo,” spanduk itu berlatar gambar cover novel legendaris Bukek Siansu.
Di atas pintu utama, tertera plakat bertuliskan “ASMARAMAN S.” dengan huruf tegas, seolah menyambut para tamu yang ingin mengenang jejak sang maestro.
Tim Jawa Pos Radar Madiun ditemani Sejarawan Kota Solo, Arie Headbang sowan ke kediaman sang maestro sekitar pukul 11.00 WIB.
Setelah mengetuk beberapa kali, pintu rumah terbuka, dan muncullah seorang pria paruh baya dengan senyum ramah.
Bunawan Sastraguna menyapa dengan hangat. Mengenakan kemeja lengan pendek motif batik biru, menantu pertama Kho Ping Hoo terlihat santai namun tetap berwibawa.
Begitu memasuki rumah, kesan klasik semakin kuat terasa. Ruangan pertama yang ditemui adalah ruang tamu.
Dindingnya dihiasi beberapa foto keluarga serta potret Kho Ping Hoo yang tampak berwibawa dengan kacamata khasnya.
Di ruang itu, sebuah rak besar menjadi pusat perhatian.
Rak-rak besi itu tersusun rapi, menampung ratusan koleksi karya Kho Ping Hoo yang masih terbungkus plastik dengan rapi.
Setiap balok rak diberi label kecil bertuliskan judul buku, mulai dari Pendekar Bongkok (1-26 tmt), Kemelut Kerajaan Mancu (1-14 tmt), Kisah Si Naga Langit, Jodoh Naga Langit, Pendekar Budiman.
Serial Bukek Siansu seperti Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Istana Pulau Es, Pendekar Super Sakti, Kisah Sepasang Rajawali, juga tertata dengan rapi.
Buku-buku stensil berukuran mini-saku itu disusun dengan teliti. Mencerminkan upaya keluarga dalam merawat warisan intelektual sang maestro.
(*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani