Jawa Pos Radar Madiun - Rumah tua di Gandekan, Solo, ini bukan sekadar tempat tinggal. Lebih dari itu, rumah ini juga museum kecil yang menyimpan jejak seorang sastrawan besar.
Setiap sudutnya berbicara tentang dedikasi dan cinta Kho Ping Hoo terhadap dunia cerita silat.
Di tengah perubahan zaman, rumah ini tetap berdiri tegak, menjaga kenangan dan warisan yang tak ternilai harganya.
Bunawan Sastraguna menceritakan perjalanan panjang sang maestro hingga menelurkan karya-karya fenomenalnya.
Om Bun -sapaan Bunawan- adalah menantu pertama Kho Ping Hoo.
Itu artinya ia juga paman dari Desta Mahendra, public figure yang merupakan cucu sang penulis cerita silat.
Lahir di Sragen pada 17 Agustus 1926, Kho Ping Hoo tumbuh dalam kehidupan yang penuh keprihatinan.
Sejak kecil, ia terbiasa bekerja serabutan untuk membantu keluarganya. Minat bacanya tinggi, terutama terhadap buku-buku filsafat.
Meski hanya berpendidikan HIS (Hollandsch-Inlandsche School) hingga kelas satu, ia mengasah kepiawaian menulisnya secara otodidak.
Kho Ping Hoo mulai menulis cerpen di majalah pada tahun 1950 hingga 1957.
Kala itu, ada perkumpulan pengarang Tionghoa yang menerbitkan majalah berisi cerpen-cerpen bergaya Hokkien (cerpen yang menggunakan nama China).
Di dalam majalah tersebut, terdapat rubrik khusus cerita silat, salah satunya adalah karya Kho Ping Hoo.
Meski tidak menguasai bahasa Mandarin dengan baik, Kho Ping Hoo memberanikan diri menulis cerita silat tanpa mengandalkan terjemahan.
‘’Karya silat pertamanya Pek Hong Kiam (Pedang Pusaka Naga Putih) terbit sekitar 1958,’’ katanya. (*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani