Jawa Pos Radar Madiun - Kho Ping Hoo yang berusia sekitar 33 tahun ketika itu, mengirimkan cerpen-cerpennya ke CV Analisa yang menerbitkan majalah Selecta dan Detektif Romantika.
Dia mendapat honorarium atas karyanya. Setelah itu, Kho Ping Hoo memutuskan untuk menerbitkan karyanya sendiri.
Meskipun ia tidak mencetak bukunya secara besar-besaran, ia menyebarkan karya-karyanya begitu sudah selesai, mirip dengan cara penerbitan cerita roman pendek pada masa kini.
‘’Dari situ, beliau memberanikan diri menulis cerita silat sendiri,” ungkap Bunawan Sastraguna, menantu pertama sekaligus pengelola karya-karya Kho Ping Hoo.
Kho Ping Hoo merupakan suhu penulis yang berkelana di dunia kangouw.
Secara harfiah, kangouw berarti sungai-telaga yang populer dalam dunia persilatan Tionghoa.
Cerita-cerita yang dituliskannya tak sekadar mengumbar jurus silat yang berlumuran darah.
Tetapi menyiratkan pesan mendalam tentang nilai sosial, budaya, religi, hingga politik.
Gaya berceritanya mengalir deras seperti Sungai Huang Ho. Di dalamnya terkandung berbagai prinsip kehidupan.
Seperti keseimbangan antara kebaikan dan kejahatan, di mana para pendekar sering kali harus memilih antara niat baik dan keinginan balas dendam.
Ada juga prinsip hukum sebab-akibat, yang menunjukkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Kho Ping Hoo juga kerap menekankan pentingnya menjaga kehormatan dan integritas, meski ada godaan atau ancaman.
Dalam beberapa ceritanya, dia kerap mengisahkan betapa kekuatan sejati seorang pendekar terletak pada pengendalian diri, bukan sekadar keahlian bertarung. (*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani