Jawa Pos Radar Madiun - Bunawan Sastraguna menerawang jauh ke depan. Merangkum ingatan belasan tahun silam.
Bersama Jawa Pos Radar Madiun, kakek yang sudah berusia kepala delapan itu mengisahkan kembali perjalanan karir mertuanya, Kho Ping Hoo.
Ia duduk bersandar di sebuah kursi. Persis di sebelah rak besi yang menyimpan tumpukan koleksi cerita silat karya mertuanya.
Sesekali tangannya membuka lembar demi lembar sebuah mini buku ditangannya.
‘’Pak Kho Ping Hoo merantau ke Tasikmalaya bersama istri serta dua anaknya,’’ kenang Om Bun, sapaan Bunawan Sastraguna.
Di kota berjuluk Sang Mutiara dari Priangan Timur itu, Kho Ping Hoo mulai tekun menulis.
Seiring berjalannya waktu, keluarganya bertambah hingga memiliki delapan anak.
Namun, sekitar tahun 1963 menjadi titik balik dalam kehidupan Kho Ping Hoo.
Kerusuhan rasial yang terjadi di Indonesia menyebabkan dia dan keluarganya harus pulang kampung.
Dari Tasikmalaya kembali lagi ke Surakarta.
Semangatnya untuk menulis tidak lantas surut.
‘’Di Solo, Pak Kho Ping Hoo mulai membangun kembali usaha penerbitannya secara mandiri,’’ terangnya.
Awalnya, proses pencetakan masih dilakukan di Tasikmalaya.
Kemudian, Kho Ping Hoo mendirikan CV Gema di Solo yang menjadi penerbit utama karya-karyanya.
Ia mulai menjalankan sistem penerbitan mandiri.
Mengurusi proses dari hulu ke hilir. Mulai dari pencetakan hingga distribusi.
Seiring berkembangnya usaha, ia mulai berdikari dengan mencetak sendiri karyanya di Solo dengan menggunakan mesin cetak handpres. (*/bersambung)
Editor : Mizan Ahsani