Jawa Pos Radar Madiun – Sastrawan legendaris Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo mulai menulis pada tahun 1950, saat berusia 24 tahun.
Pengalaman hidupnya yang penuh dinamika.
Termasuk kepindahan dari Sragen ke Tasikmalaya setelah Belanda menyerah.
Hal itu turut membentuk cara pandangnya terhadap dunia.
Bagi Kho Ping Hoo, menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan kebutuhan batin.
Ia menggambarkan menulis sebagai sarana meluapkan emosi dan pemikiran yang tertahan.
Dengan kata lain, menulis menjadi caranya mengungkapkan unek-unek yang tak dapat diutarakan secara langsung.
Proses kreatif ini tidak hanya memberinya kelegaan, tetapi juga membantu menemukan makna dalam kehidupan.
Menulis dan Ilham: Perpaduan Kecerdasan dan Kepekaan Batin
Pemerhati sejarah, Ari Headbang, menjelaskan bahwa Kho Ping Hoo menulis dengan sepenuh hati.
Hal itu terekam dalam wawancara di Majalah Optimis edisi September 1982.
Dalam wawancara tersebut, sastrawan legendaris Kho Ping Hoo menuturkan bahwa ilham adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada semua manusia.
Namun, hanya mereka yang peka dan mau mengasahnya yang dapat memanfaatkannya dengan baik.
Menurut Kho Ping Hoo, membaca adalah salah satu cara mempertajam kepekaan tersebut.
“Saya banyak membaca buku, baik sejarah, babad, kebudayaan, ilmu jiwa, maupun kitab-kitab agama,” ujarnya dalam wawancara itu, seperti dalam kliping yang dikoleksi Ari.
Bagi Kho Ping Hoo, menulis bukan sekadar profesi, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia bisa menulis selama empat hingga delapan jam per hari tanpa merasa lelah.
Proses kreatifnya pun penuh emosi.
Saat mengetik, ia bisa tertawa, menangis, bahkan marah, seakan benar-benar mengalami peristiwa yang ia tuliskan.
Sastra sebagai Sarana Pendidikan Kepribadian
Kho Ping Hoo percaya bahwa sastra dapat menjadi alat untuk mendidik kepribadian.
Ia tidak bermaksud menggurui pembacanya.
Tetapi lebih ingin memberikan contoh-contoh peristiwa yang dapat memantik perasaan dan kesadaran.
Ia meyakini bahwa pembaca yang merenungkan isi cerita secara mendalam akan mendapatkan hikmah dan kebijaksanaan.
“Dalam banyak karangan, saya sisipkan peristiwa yang tampak sepele, tetapi mengandung pelajaran hidup,” kata Kho Ping Hoo.
Selain itu, Kho Ping Hoo juga menekankan pentingnya harmoni budaya dalam karya-karyanya.
Meskipun banyak novelnya berlatar Tiongkok kuno, ia tetap menyisipkan nilai-nilai Jawa dan keindonesiaan.
Perpaduan ini menjadikan ceritanya tetap relevan dan dekat dengan pembaca lokal.
Sebagai salah satu penulis paling produktif di Indonesia, Kho Ping Hoo mewariskan ratusan cerita silat.
Karya-karyanya tidak hanya populer di masanya, tetapi juga terus diminati hingga kini.
Bahkan, beberapa di antaranya telah diadaptasi ke berbagai format, seperti komik dan film.
Lebih dari sekadar menciptakan cerita, kisah-kisah Kho Ping Hoo mengajarkan pentingnya membangun karakter, mendidik pembaca, dan memberikan kontribusi bagi kebudayaan.
Bagi para penulis muda, dedikasi dan semangatnya dapat menjadi inspirasi untuk terus berkarya dengan penuh gairah. (fin)
Editor : Mizan Ahsani