Jawa Pos Radar Madiun - Indonesia sedang diguncang skandal besar yang melibatkan jutaan konsumen BBM.
Kejaksaan Agung (Kejagung) berhasil membongkar skandal pengoplosan Pertamax dengan Pertalite yang diduga merugikan negara hingga Rp 193,7 triliun.
Skandal ini menyeret nama besar, termasuk para petinggi di Pertamina Patra Niaga.
Dirut Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan kini telah ditetapkan sebagai tersangka.
Publik pun mulai mempertanyakan kredibilitas Pertamina sebagai penyedia bahan bakar utama di Indonesia.
Seiring hebohnya skandal tersebut, muncul isu boikot produk BBM Pertamina, baik itu Pertalite maupun Pertamax.
Pertanyaannya, apakah gerakan cancel culture berupa boikot seperti ini berpengaruh terhadap Pertamina?
Apa Itu Cancel Culture dan Seberapa Besar Efeknya
Cancel culture adalah fenomena di mana individu atau merek diboikot secara sosial akibat tindakan atau kebijakan yang dianggap tidak etis.
Tak hanya terjadi di dunia hiburan dan politik, gerakan ini juga merambah ke ranah bisnis.
Di Indonesia, cancel culture baru-baru ini juga berdampak pada industri film, seperti kasus film A Business Proposal versi Indonesia, yang menuai kritik tajam dari warganet.
Warganet ramai-ramai mencibir dan menyerukan boikot, memicu kontroversi yang membuat film tersebut sepi penonton.
Namun, seberapa efektif cancel culture dalam mengubah perilaku konsumen dalam kasus dugaan oplosan BBM Pertamina?
Jika menilik tren cancel culture di Indonesia, upaya boikot terhadap produk-produk besar milik pemerintah seperti Pertamina tidak mudah.
Ada beberapa alasan utama mengapa boikot Pertamina tidak akan seefektif cancel culture di industri hiburan.
Seberapa Efektif Cancel Culture dan Boikot terhadap Produk Pertamina
Minimnya Alternatif BBM di Pasar
Meskipun ada beberapa pesaing seperti Shell, Vivo, dan BP, dominasi Pertamina di pasar BBM Indonesia masih sangat besar.
Banyak daerah tidak memiliki akses ke SPBU non-Pertamina, sehingga konsumen sulit beralih ke produk lain.
Subsidi dan Harga Lebih Murah
Produk BBM dari pesaing biasanya lebih mahal dibandingkan BBM bersubsidi milik Pertamina.
Meskipun muncul gerakan boikot, banyak masyarakat tetap memilih BBM Pertamina karena harga yang lebih terjangkau.
Ketergantungan Transportasi Publik dan Industri
Transportasi publik dan sebagian besar industri di Indonesia masih bergantung pada BBM Pertamina.
Jika terjadi boikot, dampaknya akan lebih terasa pada pelanggan individu daripada industri besar atau transportasi massal.
Cancel culture bisa menimbulkan tekanan moral dan reputasi bagi Pertamina, tetapi tidak serta-merta berdampak signifikan dalam bentuk boikot massal.
Berbeda dengan industri hiburan yang mudah kehilangan audiens, dominasi dan ketergantungan masyarakat terhadap BBM Pertamina masih terlalu besar.
Namun, fenomena ini tetap menjadi peringatan keras bagi Pertamina bahwa konsumen kini semakin kritis.
Jika kepercayaan publik terus terkikis, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin mempertimbangkan alternatif lain. (naz)
Editor : Mizan Ahsani