Jawa Pos Radar Madiun - Kurs rupiah terhadap dolar AS melemah pada awal pekan ini. Tak hanya itu, bitcoin juga ambruk.
Rentetan masalah ini disebabkan oleh kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Langkah proteksionis tersebut langsung memicu respons keras dari berbagai negara, termasuk Uni Eropa, Tiongkok, dan Kanada, yang menyatakan akan melakukan tindakan balasan terhadap barang-barang impor asal AS.
Aksi saling serang tarif ini memunculkan kekhawatiran besar di kalangan investor.
Ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi membuat banyak aset, termasuk bitcoin, terjun bebas.
Tak hanya itu, kurs rupiah terhadap dolar AS juga terpantau melemah karena pelaku pasar beralih ke aset-aset safe haven.
Dow dan Nasdaq Terpukul, Bitcoin Juga Amblas
Kondisi pasar saham Amerika mengalami guncangan hebat.
Indeks Dow Jones sempat anjlok lebih dari 1.500 poin pada perdagangan akhir pekan lalu, disusul S&P 500 dan Nasdaq yang kehilangan lebih dari 4% nilainya dalam semalam.
Nasdaq Composite bahkan masuk ke wilayah bearish setelah melemah hingga 6%.
Tak hanya pasar saham, bitcoin pun ikut tertekan.
Mata uang kripto paling populer ini turun drastis di bawah level USD 79.000, mencatat penurunan sekitar 15% sejak awal 2025.
Sentimen negatif global dan ketidakpastian arah ekonomi menjadi beban utama bagi kinerja aset digital ini.
Kurs Rupiah Terhadap Dolar Tertekan
Kebijakan dagang AS berdampak langsung ke nilai tukar mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Hingga Senin (7/4), kurs rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan, seiring dengan arus modal asing yang mulai keluar dari pasar Indonesia.
Para pelaku pasar global mulai menyesuaikan portofolio mereka dengan menarik dana dari pasar berkembang untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS dan emas.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah kondisi global yang bergejolak.
Bitcoin dan Dolar Jadi Barometer Sentimen Global
Saat ketegangan geopolitik meningkat, investor global biasanya mengandalkan dua hal: dolar AS sebagai aset safe haven dan bitcoin sebagai alternatif investasi digital.
Namun kini, bahkan bitcoin pun tertekan karena pergerakannya mulai berkorelasi erat dengan pasar saham.
Tanpa adanya katalis positif dari industri kripto sendiri, bitcoin diprediksi akan terus mengikuti arah pasar modal.
Beberapa analis memperkirakan bahwa volatilitas masih akan tinggi dalam beberapa pekan ke depan, dengan bitcoin dan kurs mata uang berkembang seperti rupiah masih berpotensi tertekan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani