Jawa Pos Radar Madiun - Tugu Biawak, atau yang dikenal dengan nama resmi Tugu Krasak Menyawak, kini menjadi salah satu destinasi wisata terbaru yang sedang ramai diperbincangkan di Wonosobo, Jawa Tengah.
Terletak di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, tugu ini menampilkan patung biawak yang berdiri gagah dan terlihat realistis, yang menjadi simbol penting bagi pelestarian alam dan satwa langka.
Tugu yang terlihat seperti biawak asli ini bukan hanya sekadar karya seni, tetapi juga sarana edukasi untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga keberagaman hayati.
Berikut sederet fakta menarik dari tugu yang pembangunannya menelan anggaran Rp 50 juta ini.
1. Simbol Pelestarian Alam dan Satwa Langka
Tugu Biawak memiliki makna filosofis yang mendalam. Biawak dipilih sebagai objek patung karena hewan ini merupakan spesies yang semakin jarang terlihat di alam liar.
Kehadiran patung ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap pelestarian alam dan kelangsungan hidup satwa langka yang ada di sekitar mereka.
2. Pembangunan dengan Anggaran Terjangkau
Hal lain yang menjadi sorotan adalah meskipun terlihat megah, tugu ini dibangun dengan anggaran yang relatif kecil dibanding tugu viral lain, yakni sekitar Rp 50 juta saja.
Pendanaan ini berasal dari program Corporate Social Responsibility (CSR) sejumlah BUMD di Wonosobo, yang membuktikan bahwa kreativitas bisa menghasilkan karya monumental meski dengan dana terbatas.
Tugu ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah dapat menghasilkan proyek yang bermanfaat.
3. Proses Pembuatan yang Cepat dan Efisien
Pembangunan tugu biawak ini dimulai pada 3 Februari 2025, dan hanya membutuhkan waktu sekitar setengah bulan untuk menyelesaikannya.
Dengan waktu pengerjaan yang singkat, tugu ini menunjukkan efisiensi dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek yang melibatkan seniman lokal dan kolaborasi dengan pihak-pihak terkait.
4. Desain Patung yang Sangat Realistis
Salah satu daya tarik utama Tugu Biawak adalah desain patung biawak yang sangat realistis. Setiap detail, mulai dari sisik hingga ekspresi wajah, dirancang dengan teliti agar tampak hidup.
Patung ini sering kali membuat orang yang melintas di sekitarnya terkejut, mengira bahwa itu adalah biawak sungguhan sebelum akhirnya menyadari bahwa itu adalah sebuah karya seni yang menakjubkan.
5. Penghargaan Hak Cipta Resmi
Pada 26 April 2025, tepat pada perayaan Hari Kekayaan Intelektual Sedunia, Tugu Biawak resmi mendapatkan hak cipta dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham).
Patung ini didaftarkan sebagai karya cipta oleh seniman Rejo Arianto, yang menjadi pemegang hak cipta patung tersebut, sekaligus sebagai bukti pengakuan atas karya seni tersebut.
6. Menjadi Daya Tarik Wisata Baru
Tugu Biawak yang viral ini telah menjadi salah satu tujuan wisata baru di Wonosobo. Banyak wisatawan yang datang untuk melihat langsung patung biawak yang ikonik ini, berfoto, atau hanya menikmati suasana sekitarnya.
Selain menjadi objek visual yang menarik, tugu ini juga memberikan pesan penting mengenai pelestarian satwa lokal dan edukasi lingkungan.
Tugu Biawak Wonosobo lebih dari sekadar patung namun merupakan simbol penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pelestarian alam.
Dengan desain yang menakjubkan dan anggaran yang efisien, tugu ini membuktikan bahwa seni dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan.
Kehadiran tugu ini juga memberikan pesan moral yang mendalam tentang pentingnya menjaga keberagaman hayati, terutama untuk hewan-hewan yang terancam punah seperti biawak. (naz)
Editor : Mizan Ahsani