Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sisihkan BLT Rp 300 Ribu untuk Beli Cempe, Lansia Sebatang Kara Kurban setiap Iduladha: Definisi Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Mizan Ahsani • Sabtu, 7 Juni 2025 | 19:04 WIB
Mbah Sri Wuhningsih kurban kambing meski di tengah kesulitan dan menerima BLT.
Mbah Sri Wuhningsih kurban kambing meski di tengah kesulitan dan menerima BLT.

Jawa Pos Radar Madiun – Dalam hiruk pikuk Iduladha, kisah Mbah Sri Wuhningsih, seorang lansia 70 tahun dari Kulon Progo, Yogyakarta, menyentuh hati banyak orang.

Hidup sebatang kara, ia tidak menyerah pada keterbatasan.

Justru dari keikhlasan dan ketekunannya, Mbah Sri bisa berkurban setiap tahun, berawal dari menyisihkan uang BLT Rp 300 ribu untuk membeli anak kambing. 

Di rumah mungil berukuran 30 meter persegi, Mbah Sri tinggal sendiri. Tak jauh dari rumahnya, berdiri kandang bambu sederhana tempat ia merawat ternaknya.

Aktivitasnya tak pernah berhenti: pagi memberi makan kambing, siang mencari rumput, sore kembali memberi makan ternak, dan malam menganyam tas dari kertas bekas.

“Ini sudah saya pelihara sejak kecil. Sekarang umurnya tiga tahun lebih,” ujar Mbah Sri, mengutip Radar Jogja.

Awal dari BLT, Kini Rutin Kurban Setiap Tahun

Segalanya bermula tahun 2021, saat Mbah Sri menerima BLT sebesar Rp 600 ribu.

Alih-alih menghabiskannya untuk kebutuhan pribadi, ia menyisihkan Rp 300 ribu untuk membeli cempe, anak kambing betina. Sisanya digunakan untuk makan sehari-hari.

Anak kambing itu tumbuh sehat dan akhirnya melahirkan dua anak.

Dari situ, Mbah Sri mulai rutin berkurban setiap tahun. Tahun ini menjadi kurban ketiganya secara berturut-turut.

“Tahun pertama saya nangis. Bukan karena sedih, tapi terharu. Akhirnya bisa kurban,” tuturnya pelan.

Baca Juga: Sah! Jika Lolos Piala Dunia 2026, Status Indonesia Bukan Negara Debutan

Kurban untuk Orang Tua yang Sudah Tiada

Mbah Sri tak memiliki suami maupun anak.

Tapi itu tak menghalangi niatnya untuk berkurban. Tahun pertama, kurban diniatkan untuk dirinya.

Tahun kedua, ia persembahkan untuk mendiang ibu. Dan tahun ini, kambing kurban dipersembahkan untuk mendiang ayah.

Baginya, berkurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi bentuk pengabdian dan keikhlasan yang mengalir dari hati.

“Itu kan ibadah. Semakin ikhlas, semakin banyak pahalanya,” ucapnya lirih tapi penuh keyakinan.

Mbah Sri menunjukkan bahwa ibadah tak melulu soal kemampuan materi.

Dengan penghasilan harian hanya sekitar Rp 10 ribu dan tanpa pemasukan tetap, ia tetap bisa merawat kambing dan menyisihkan rezeki untuk berkurban. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#kurban #kambing #bantuan #iduladha #berkurban #miskin #BLT #idul adha