Jawa Pos Radar Madiun – Tak sedikit pasangan suami istri (pasutri) yang menghadapi permasalahan dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Kebanyakan, mereka mulai merasakan problematika hidup setelah beberapa waktu berstatus sebagai pasutri.
Namun yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan ini agak lain. Mahligai rumah tangga yang baru dibangun beberapa menit sudah mengalami prahara.
Sontak hal itu membuat geger warganet. Pasalnya video permasalahan rumah tangga itu beredar di media sosial (medsos).
Dilansir dari jawaPos.com yang mengutip akun Instagram @pembasmi.kehaluan.reall, persitiwa tak biasa itu terjadi di Kabupaten Pali, Sumatera Selatan.
Dari unggahan akun tersebut, terlihat mempelai pria dan wanita memakai baju pengantin berwarna putih tengah melakoni prosesi sakral.
"Dengan mas kawin tersebut,” ungkap mempelai pria. “Sahh!,” sambut sanak undangan.
Namun hal yang mengejutkan terjadi. Mempelai wanita tiba-tiba meminta cerai saat proses akad nikah baru selesai dilaksanakan.
"Aku mau marah, aku tidak suka,” ungkap mempelai wanita, seperti dikutip dari JawaPos.com.
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia pergi dan terlihat memasuki ruangan yang berada di belakangnya meninggalkan mempelai pria.
Seperti prosesi akad nikah lainnya, acara tersebut juga dihadiri sejumlah tamu undangan pria dan wanita.
Dalam rekaman video yang diunggah oleh akun @pembasmi.kehaluan.reall tersebut, acara itu dilaksanakan disebuah rumah yang masih berbalut bata merah.
Unggahan tersebut sontak mengundang tanggapan beragam warganet. Salah satunya @e_julie_anggrainy**.
Ia justru mempertanyakan alasan mempelai wanita yang bersedia dirias lainya pengantin jika sejak awal tidak maun dinikahi mempelai pria yang ada di video tersebut.
“Kenapa mau di-makeup-in mbaknya,” tulis netizen tersebut di kolom komentar.
Hal berbeda diungkap oleh netizen lain, yakni @bajudes** yang mengungkapkan saat ini sudah bukan zamannya nikah karena dijodohkan.
“Sudah susah kalau jodoh-jodohin sekarang. Perempuan sudah punya standar TikTok, kalau bukan keinginannya mending jangan dipaksa dah,” tulis dia.
Editor : Budhi Prasetya