Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Menggema di Sony Awards 2025, Film Dokumenter Tanah Kitai Gaungkan Suara Hutan dan Kearifan Dayak Iban, Digarap Mahasiswa UI

Deni Kurniawan • Kamis, 26 Juni 2025 | 01:12 WIB
Salah satu adegan dalam film dokumenter berjudul Tanah Kitai.
Salah satu adegan dalam film dokumenter berjudul Tanah Kitai.

Jawa Pos Radar Madiun –Beragam cara menggaungkan keresahan terhadap kemungkinan kerusakan alam. Termasuk, potensi keberadaan keanekaragaman hayati yang terancam.

Salah satu media penyampaian itu adalah dengan film dokumenter. Itu seperti yang dilakukan sejumlah mahasiswa yang menyuarakan kondisi alam dan kearifan Kalimantan.

Adalah film dokumenter Tanah Kitai. Karya ini bukan sekadar karya visual. Tetapi, juga representasi suara komunitas adat yang selama ini luput dari sorotan arus utama.

Disutradarai oleh dua mahasiswa Arsitektur Universitas Indonesia (UI), yaitu Shaquille Zaki N. dan Quina Q. Mirxela, dokumenter ini melesat ke panggung internasional dengan cara yang mengesankan. Yakni, mentereng di ajang Sony Awards 2025.

Dari ribuan karya di seluruh dunia, Tanah Kitai menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara yang masuk Top 10 Finalist kategori Non-Fiction Short Film dalam ajang bergengsi Sony Future Filmmaker Awards 2025 di Los Angeles.

Lebih dari sekadar penghargaan, pencapaian ini menjadi tonggak penting dalam pengarsipan budaya dan lingkungan melalui perspektif generasi muda.

Di antara 11.750 karya dari lebih dari 7.500 filmmaker global, Tanah Kitai tampil mencolok karena kedalaman narasinya yang menyentuh persoalan mendasar.

Yaitu, perilah hubungan dan keterkaitan manusia dengan alam dan pentingnya menjaga ruang hidup bersama secara berkelanjutan.

Judul Tanah Kitai yang berarti Tanah Kita itu merupakan bahasa Dayak Iban. Predikat tersebut menegaskan identitas kolektif masyarakat lokal dengan alam tempat mereka berpijak.

Lewat program Ekskursi Arsitektur UI, Shaquille dan Quina menyusuri wilayah-wilayah pedalaman Kalimantan.

Keduanya tinggal bersama masyarakat Dayak Iban, merekam kehidupan sehari-hari di rumah betang, mengarungi sungai, dan berdialog langsung dengan para sesepuh adat.

Hasilnya bukan dokumenter jarak jauh dengan lensa wisatawan, tapi karya yang menyatu dengan denyut komunitas lokal.

Penonton diajak menyelami cara hidup Dayak Iban yang menghormati hutan, memuliakan sungai, dan menjalankan nilai gotong royong sebagai prinsip ruang hidup.

Estetika visual yang lembut disandingkan dengan narasi yang kuat dan emosional—tanpa menggurui, tetapi mengajak merenung.

Prestasi Tanah Kitai tak berhenti di Los Angeles. Film ini juga terpilih sebagai bagian dari Balinale (Bali International Film Festival) dan EcoFrames di Yunani, festival film bertema lingkungan yang dikenal selektif dalam kurasi.

Artinya, pesan yang dibawa oleh Tanah Kitai bersifat universal, menghubungkan keprihatinan lokal dengan kesadaran global tentang pentingnya menjaga bumi dan menghormati budaya asli.

Sebagai dokumenter pertama dari Indonesia yang menembus babak final Sony Future Filmmaker Awards, Tanah Kitai menjadi penanda bahwa gerakan sinema dokumenter berbasis masyarakat memiliki tempat dan daya gaung tersendiri di era kini.

Yang membedakan Tanah Kitai dari film dokumenter lainnya di Sony Future Filmmaker Awards 2025 itu adalah pendekatan arsitekturalnya.

Sebagai mahasiswa arsitektur, Shaquille dan Quina tak hanya melihat bentuk fisik rumah betang atau pola permukiman, tetapi menelisik bagaimana struktur itu mencerminkan berbagai hal.

Seperti, nilai, spiritualitas, dan harmoni hidup. Ruang tidak hanya dilihat sebagai fungsi, tapi juga sebagai refleksi budaya dan ekologi.

Dalam dunia sinema dokumenter, pendekatan ini memberi warna baru. Bahwa arsitektur bukan hanya urusan bangunan, tetapi juga narasi kehidupan yang terus dibangun dari generasi ke generasi. (den)

Editor : Deni Kurniawan
#kalimantan #dayak iban #Sony Future Filmmaker Awards 2025 #film dokumenter #Sony Awards 2025 #mahasiswa ui #film #Tanah Kitai