Jawa Pos Radar Madiun - Aksi demonstrasi menolak kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Pati, Rabu (13/8), berujung ricuh.
Radar Pati melaporkan bahwa insiden ini memakan korban jiwa.
Anggota DPRD Pati Teguh Bandang mengungkapkan ada tiga korban meninggal, yakni dua remaja berinisial Z dan S, serta seorang wartawan media setempat.
“Informasi ini juga tersampaikan secara langsung melalui siaran live masyarakat. Kabar yang saya terima, mereka meninggal di RS Mitra,” ujar Teguh di sela rapat paripurna, mengutip Radar Pati.
Hingga kini, pihak terkait masih memverifikasi kebenaran data korban. Di sisi lain, bentrokan juga menyebabkan korban di pihak aparat.
Kapolsek Kota Pati Iptu Heru Purnomo mengalami luka di bagian kepala dan tengah dirawat di RSUD RAA Soewondo Pati.
Dugaan sementara, ia menjadi korban pemukulan massa.
Belasan anggota kepolisian lain dilaporkan luka-luka dan mendapat perawatan medis.
Pihak rumah sakit dan kepolisian belum mengeluarkan konfirmasi resmi terkait jumlah dan identitas korban meninggal.
Kericuhan dipicu kekecewaan massa terhadap Bupati Pati Sudewo yang dinilai arogan dalam polemik kenaikan PBB-P2 hingga 250 persen.
Meski kebijakan itu sudah dibatalkan, amarah warga tetap membara dan berujung bentrokan di sekitar gedung DPRD Pati.
Sejak pagi, aksi sudah diwarnai berbagai atribut protes, mulai dari spanduk, banner, bendera merah putih, hingga replika keranda mayat.
Orasi politik menggema, termasuk desakan langsung agar Bupati Sudewo keluar menemui massa.
Ketegangan memuncak sekitar pukul 09.42 WIB saat lemparan botol air mineral terjadi, disusul teriakan “Sudewo keluar!” dari berbagai sisi kerumunan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani