Jawa Pos Radar Madiun - Pencairan bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) tahap ketiga masih belum bisa dinikmati masyarakat.
Harapan ribuan penerima manfaat kembali tertahan oleh hambatan teknis yang belum terselesaikan.
Supervisor Sistem Informasi Sosial Next Generation (SISNG) mengonfirmasi bahwa data penerima sudah bergerak dalam sistem.
Namun, status masih terhenti di tahap “belum SI”. Status ini menandakan bahwa dokumen krusial seperti Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D), Surat Perintah Membayar (SPM), dan Standing Instruction (SI) belum selesai diproses.
Tanpa dokumen tersebut, dana bansos mustahil ditransfer ke rekening penerima. Situasi ini membuat banyak keluarga penerima manfaat diliputi kecemasan.
Mereka mengaku sangat bergantung pada bansos untuk memenuhi kebutuhan harian, biaya sekolah anak, hingga membayar tagihan rumah tangga.
“Menjelang akhir bulan, kami benar-benar menunggu pencairan ini. Kalau tidak cair, kami bingung harus bagaimana,” keluh seorang warga.
Masalah lain juga menimpa kelompok penerima manfaat yang dialihkan dari kantor pos ke Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).
Meski data di SIKS-NG menunjukkan sebagian besar wilayah sudah bergerak, masih ada daerah yang tertahan. Beberapa warga bahkan belum menerima undangan resmi untuk pembuatan kartu KKS dan buku tabungan.
Akibatnya, status mereka tetap di tahap “buka rekening kolektif”, yang artinya belum bisa diproses pencairan. Meski Bank BRI disebut sudah muncul lebih dulu di sistem sebagai penyalur, hal ini tidak otomatis berarti pencairan segera dilakukan.
Hingga kini pemerintah belum mengumumkan jadwal resmi kapan dana akan masuk ke rekening. Pendamping sosial di lapangan pun mengaku kewalahan menghadapi banyaknya pertanyaan masyarakat.
Tertundanya pencairan bansos menambah berat beban ekonomi keluarga penerima manfaat, terutama yang belum pulih sepenuhnya akibat tekanan ekonomi.
Publik pun mendesak agar pemerintah segera menuntaskan dokumen administratif agar bansos tahap ketiga bisa segera cair dan benar-benar dirasakan masyarakat.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun