Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tiga Fraksi DPR RI Nonaktifkan Lima Orang Kadernya, PDIP Belum Tentukan Sikap soal Deddy Sitorus dan Sadarestuwati

Budhi Prasetya • Senin, 1 September 2025 | 23:30 WIB
Deddy Sitorus, anggota DPR RI sekaligus kader PDI Perjuangan.
Deddy Sitorus, anggota DPR RI sekaligus kader PDI Perjuangan.

Jawa Pos Radar Madiun – Keanggotaan lima kader partai politik besar yang duduk di kursi DPR RI resmi dinonaktifkan.

Fraksi Partai Nasdem, PAN dan Golkar mengambil tindakan tegas terhadap kader-kader mereka.

Mereka adalah Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach (Fraksi Partai NasDem), Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio dan Surya Utama alias Uya Kuya (Fraksi PAN), serta Wakil Ketua DPR Adies Kadir (Fraksi Partai Golkar).

Langkah tegas itu diumumkan lewat siaran pers resmi pada Minggu 31 Agustus 2025.

Sementara itu, PDI Perjuangan belum mengambil keputusan resmi terkait polemik yang melibatkan Deddy Sitorus dan Sadarestuwati.

Dilansir dari jawaPos.com, Deddy sempat menyita perhatian publik setelah pernyataannya viral yang tidak mau disamakan dengan rakyat jelata.

Sedangkan, Sadarestuwati viral setelah dikabarkan ikut berjoget di Gedung DPR RI usai acara Laporan Tahun MPR RI.

Meski belum mengambil langkah terkait dua legislator tersebut, PDIP menyadari etika kedua kadernya itu harus menjadi pembelajaran.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPP PDIP, Said Abdullah, yang menanggapi langkah sejumlah fraksi lain yang telah menonaktifkan anggota mereka dari keanggotaan DPR pasca ramainya kritik publik terhadap sikap sejumlah legislator.

"Menyangkut hal-hal yang seperti disebutkan tadi, Pak Deddy Sitorus, Sadarestuwati, maka menurut hemat kami dari sisi Fraksi PDI Perjuangan, dengan kedaulatan dan otonomi yang kami miliki, berilah kesempatan DPP Partai," kata Said di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin 1 September 2025, seperti dikutip dari jawaPos.com.

"Namun kami melihatnya, apa yang disampaikan oleh Pak Deddy Sitorus atau kemudian Ibu Sadarestuwati, secara etik kita semua menjadi pelajaran untuk mempergunakan diksi atau perasa yang menimbulkan empati dan simpati kepada rakyat,” sambungnya.

Said menegaskan DPP PDIP masih membahas secara internal mengenai sikap resmi yang akan diambil.

“Ya, sampai sekarang kan DPP belum menentukan sikap. Dan seperti yang saya lihat, seperti Ibu Sadarestuwati, ya sama dengan terlalu banyaklah yang berjoget ketika acara yang sesungguhnya acaranya sudah selesai, cuma ingin menunjukkan kebinekaan, diputarlah lagu dari daerah Timur, kan itu saja,” jelasnya.

Said juga sepakat jika kasus ini harus menjadi pembelajaran penting bagi seluruh kader PDIP agar lebih berhati-hati dalam bersikap maupun bertutur kata di ruang publik.

Menurutnya, setiap wakil rakyat harus mempertimbangkan sensitivitas masyarakat.

Meski belum ada keputusan resmi, Said menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas polemik yang terjadi.

“Saya sebagai anggota fraksi PDI Perjuangan atas nama Pak Dedi Sitorus, Ibu Sadarestuwati, sungguh-sungguh minta maaf jika kemudian ada kesalahan, kekhilafan yang dilakukan oleh Pak Dedi Sitorus. Dengan segala kerendahan hati, kami minta maaf,” tegasnya. (*)

Editor : Budhi Prasetya
#Ahmad Sahroni #deddy sitorus #nonaktif #pdi perjuangan