Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tergiur jadi Pekerja Migran di Kamboja? Simak Penuturan Miss Yuni Ini Agar Tak jadi Korban Penipuan atau TPPO

Budhi Prasetya • Senin, 15 September 2025 | 22:45 WIB
Ilustrasi Foto : Pekerja Migran Indonesia (PMI) tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.
Ilustrasi Foto : Pekerja Migran Indonesia (PMI) tiba di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Jawa Pos Radar Madiun – Harapan memperbaiki kesejahteraan atau meningkatkan ekonomi keluarga jadi alasan utama warga menjadi pekerja migran asal Indonesia.

Seringkali mereka memilih bekerja di luar negeri yang dinilai memberikan upah lebih tinggi dari Indonesia.

Pun, ada juga yang beralasan bahwa peluang mendapat pekerjaan di negeri orang lebih gampang ketimbang di negeri sendiri.

Namun tidak sedikit juga yang justru mengalami nasib malang. Seperti pekerja migran yang bekerja di Kamboja.

Ada pekerja yang semangat mencari peruntungan di sana. Berbekal badan dan sehat tak sedikit yang berakhir tragis.

Dilansir dari JaawPos.com, tak sedikit WNI yang jadi pekerja migran yang dipulangkan dalam peti mati, ada pula yang kembali dengan kondisi cacat setelah mengalami penyiksaan.

Kisah pilu tersebut diungkapkan oleh Miss Yuni dalam sebuah podcast bersama Arie Untung. Ia menuturkan, fenomena “demam Kamboja” di kalangan anak muda kini semakin marak karena media sosial.

Tawaran pekerjaan di negara itu begitu menggiurkan karena diceritakan orang tanpa konteks yang penuh dan jelas.

Mulai dari kabar gaji dalam bentuk USD, fasilitas AC, uang makan, uang lembur, hingga tempat tinggal yang disebut-sebut nyaman.

“Dalam pikiran anak muda, semua itu terlihat keren dan cepat membuat mereka bisa flexing,” ungkapnya.

Yunu menuturkan jika banyak pekerja yang saat berangkat sempat merasakan fasilitas mewah, seperti menginap di hotel dan dijemput mobil mewah.

Namun itu tak berlangsung lama, hanya berselang beberapa minggu kemudian kabar mereka tak diketahui alias menghilang.

“Tiba-tiba keluarga mereka mendapat telepon untuk menebus anak-anaknya. Ada yang dipukul, disetrum, bahkan disiksa hingga meninggal dunia,” ujarnya.

Menurut Yuni, fakta di lapangan menunjukkan, perekrutan tenaga kerja ini kerap dilakukan dengan visa turis bukan pekerja.

Tidak ada MoU (nota kesepahaman) resmi antara Indonesia dan Kamboja terkait pekerja migran.

Padahal, Konjen RI di Kamboja sudah berulang kali mengingatkan agar masyarakat waspada terhadap penipuan berkedok lowongan kerja di media sosial.

"Iklan-iklan yang viral di TikTok atau Facebook itu benar-benar menjerat anak-anak muda kita. Mereka terbuai janji manis, padahal pekerjaan yang dijanjikan tidak jelas,” kata Yuni.

Yuni menegaskan jika kondisi yang terjadi itu bukanlah cerita atau omong kosong belaka. Dirinya mengaku menyaksikan langsung proses pemulangan jenazah korban dari Kamboja ke Indonesia.

Bahkan, pada tahun 2022, ia menggunakan dana pribadi untuk memulangkan beberapa orang yang terjebak di negara tersebut.

"Saya merasa terpanggil. Meski mereka bukan keluarga saya, insting saya mengatakan seandainya itu saudara sendiri, tentu saya akan berbuat sesuatu. Janji saya pada diri sendiri, hasil YouTube saya akan saya gunakan membantu orang-orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Namun, yang membuat miris, beberapa orang yang pernah diselamatkan justru kembali berangkat ke Kamboja.

Alasannya beragam, mulai dari konflik rumah tangga, sulitnya mencari pekerjaan di kampung halaman, hingga godaan gaya hidup bebas di negeri orang.

“Ada yang bilang, meskipun disiksa, di sana mereka bisa minum-minuman keras, ada hiburan, ada perempuan, dan kerjaan pasti ada. Jadi meskipun berisiko, tetap saja mereka kembali,” bebernya.

Dari kacamata hukum, sebagian besar kasus yang menimpa pekerja migran Indonesia di Kamboja sebenarnya masuk dalam kategori Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Namun, kenyataannya, tidak semua korban diakui sebagai korban TPPO.

"Ada yang dinyatakan korban, ada yang tidak. Padahal saya melihat sendiri mereka disiksa, bahkan ada yang pulang tanpa tangan, tanpa jari, atau sudah tidak bernyawa,” pungkas Yuni. (*)

Editor : Budhi Prasetya
#disiksa #pekerja migran #kamboja #tppo #perdagangan orang