Jawa Pos Radar Madiun - Dunia pedalangan Indonesia berduka atas berpulangnya maestro Ki Anom Suroto, Kamis (23/10).
Namun di balik kehilangan itu, warisan budaya sang dalang kondang terus hidup melalui putranya, Ki Bayu Aji.
Nama Bayu Aji dikenal sebagai dalang muda berprestasi internasional. Di balik kiprahnya, tersimpan jejak pendidikan budaya dari sang ayah.
Sejak muda, Ki Anom menanamkan semangat pelestarian seni di Pendopo Timasan, Solo, lewat kegiatan yang ia sebut Kebon Seni.
Dalam filosofi Jawa, kebon seni berarti tempat menanam dan memupuk ilmu. Tempat ini menjadi ladang tumbuhnya seniman tari, karawitan, dan dalang muda.
Di sanalah benih-benih pedalangan disemai dan dirawat hingga tumbuh menjadi generasi penerus wayang purwa.
Rebo Legen, Ruang Pendadaran Para Dalang
Salah satu warisan penting dari Ki Anom adalah Rebo Legen, forum seni yang digelar setiap Rabu Legi, sesuai weton sang dalang.
Forum ini menjadi ajang pendadaran bagi para calon dalang.
Di sana mereka berlatih pakeliran, sabet, catur, dan etika mendalang.
Tak sekadar latihan, Rebo Legen menjadi sumber hidup bagi para dalang muda yang kelak menggunakan gaya pakeliran dari forum itu untuk berkarya di luar.
Kini, tongkat Rebo Legen berpindah ke tangan Ki Bayu Aji. Ia tak hanya melanjutkan tradisi, tapi juga memperluas maknanya.
Meski sibuk tampil di berbagai panggung nasional dan internasional, Bayu Aji tetap membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar.
Menolak Kepaten Obor
Sebagai dalang kreatif, Bayu Aji terus menggali sanggit, ide dan alur dramatik dalam wayang, dari berbagai sumber.
Ia meramu gagasan dari sang ayah, Ki Anom Suroto, juga dari maestro lain seperti Ki Nartosabdo dan Ki Tristuti Rahmadi.
Hasilnya adalah gaya pakeliran dinamis, kaya tafsir, dan relevan bagi generasi muda.
Dalam dunia pedalangan, ada istilah kepaten obor, hilangnya penerus tradisi.
Namun lewat tangan dingin Bayu Aji, kekhawatiran itu ditepis. Ia aktif membina, mendampingi, dan memberi ruang tampil bagi para dalang muda.
Setelah Ki Anom Suroto meninggal dunia, Kebon Seni dan Rebo Legen menjadi lebih dari sekadar tempat latihan.
Keduanya menjelma menjadi simbol bahwa warisan budaya bukan untuk dikunci, melainkan dibuka dan diwariskan kembali. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani