Jawa Pos Radar Madiun - Penggemar wayang kulit berduka. Itu setelah dalang kondang Ki Anom Suroto meninggal pada Kamis 23 Oktober 2025.
Berdasarkan perhitungan pranata mangsa, tanggal wafat Ki Anom Suroto itu bertepatan dengan mangsa Kalima.
Bagi masyarakat Jawa, mangsa Kalima diyakini memilki berbagai ciri-ciri. Mulai tentang cuaca sampai perihal dewa yang menguasai rentang perjalanan mangsa yang berlangsung mulai 14 Oktober 2025 sampai 9 November 2025.
Cuaca di Mangsa Kalima
Mangsa ini membawa hawa sejuk dan cuaca relatif syahdu. Sebab, langit kerap diselimuti mendung. Juga sering turun hujan, bahkan acap pula sangat lebat.
Meninggalnya Ki Anom Suroto
Mendiang mengembuskan napas terakhir setelah dirawat intensif empat hari di RS dr. Oen, Surakarta.
Dalang yang pernah beber kelir di lima benua dengan berbagai lakon wayang itu dikabarkan meninggal akibat penyakit jantung.
Hingga, sang dalang berpulang pada Kamis 23 Oktober 2025 yang jatuh di mangsa Kalima.
Dewa Penguasa Mangsa Kalima
Rentang waktu berjalan mangsa Kalima dikuasai Dewa atau Batara Asmara. Batara Asmara, dewa kesenangan dan keberuntungan.
Banyak yang percaya bahwa di mangsa ini akan datang godaan yang berupa gangguan-gangguan tidak menyenangkan.
Kalau orang itu tabah, maka kesenangan dan keberuntungan segera menggantikan derita itu.
Gangguan atau derita itu adalah samaran dari Batara Asmara. Kalau bentuk samaran Batara Asmara telah dikalahkan, maka akan muncul wujud yang sebenarnya sebagai keberuntungan.
Agar selalu berdekatan dengan Hyang Asmara, maka harus selalu bertabah hati menghadapi segala macam cobaan dan godaan.
Jika cobaan dan rintangan lenyap, maka kesenangan datang.
Keberkaitan Mangsa Kalima dengan Kematian Ki Anom Suroto
Agaknya, kepergian Ki Anom Suroto yang jatuh di mangsa Kalima itu selaras dengan makna penguasanya, yakni Batara Asmara.
Yang mana, cobaan lelayu itu harus dijalani dengan tabah. Setelahnya, akan datang hal-hal baik dan kebahagiaan.
Hal ini patut jadi pegangan bagi para penggemar dalang bernama asli Ki KRT H Lebdo Nagoro Anom Suroto itu. (den)
Editor : Deni Kurniawan