Putra Maestro yang Melanjutkan Napas Wayang Kulit Purwa ke Dunia Internasional
Jawa Pos Radar Madiun - Kepergian maestro wayang kulit Ki Anom Suroto pada Kamis (23/10) meninggalkan duka mendalam bagi dunia pedalangan Indonesia.
Namun, di balik perpisahan itu, tongkat estafet seni pewayangan diteruskan oleh sang putra, Ki Bayu Aji, dalang muda yang mewarisi darah seni sekaligus semangat ayahandanya.
Darah Seni dari Maestro Legendaris
Terlahir dari pasangan Ki Anom Suroto dan Sri Sayuti, nama lengkapnya adalah Muhammad Pamungkas Prasetya Bayu Aji.
Sejak kecil, Bayu Aji tumbuh di lingkungan penuh irama gamelan, sulukan, dan sabetan wayang.
Dari situlah ia menyerap langsung nilai-nilai seni dan filosofi pedalangan klasik yang kemudian membentuk karakter khasnya sebagai dalang muda berwawasan luas.
Perjalanan dari Panggung Lokal ke Dunia
Sejak muda, Bayu Aji telah menunjukkan bakat alami dalam mendalang. Berkat pembinaan langsung sang ayah, ia menorehkan prestasi di berbagai kompetisi bergengsi:
Juara Lomba Dalang Tingkat Nasional (2005)
Juara Lomba Dalang Internasional di Singapura (2010)
Penghargaan Seni dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2014)
Kepiawaiannya tak hanya berhenti di panggung tanah air.
Ia kerap tampil dalam festival budaya di luar negeri sebagai duta seni Indonesia, memperkenalkan wayang kulit Purwa ke dunia internasional.
Baca Juga: Profil dan Daftar Film Hamish Daud, Aktor Multitalenta yang Didugat Cerai Raisa
Gaya Pakeliran Khas: Perpaduan Tradisi dan Inovasi
Dalam dunia pedalangan, gaya seorang dalang menjadi identitas kuat.
Ki Bayu Aji memadukan pengaruh dari berbagai maestro seperti Ki Gondo Darman, Ki Nartosabdo, Ki Tristuti Rahmadi, Ki Blacius Subono, dan Ki Bambang Suwarno.
Hasilnya, lahirlah gaya pakeliran yang dinamis dalam sabetan, halus dalam dialog, dan dalam dalam sulukan.
Bayu Aji juga dikenal berani berinovasi.
Ia mengemas lakon klasik dalam format modern, tanpa meninggalkan pakem, agar wayang tetap relevan di mata generasi muda.
Melanjutkan Warisan Ki Anom Suroto
Meski sang ayah telah tiada, semangat dan filosofi hidup “dalang kuwi kudu golek jeneng sakdurunge jenang” tetap ia pegang.
Artinya, seorang dalang harus mencari nama dan karya terlebih dahulu sebelum mencari kemapanan.
Ki Bayu Aji menjadi simbol regenerasi dalang muda yang tak sekadar meniru, tapi juga berinovasi menjaga napas panjang budaya Jawa di era digital. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani