Jawa Pos Radar Madiun - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh tidak perlu diukur dari laba, mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Menurutnya, pandangan Jokowi memang tidak sepenuhnya keliru, namun tetap membutuhkan strategi agar manfaat proyek benar-benar terasa bagi masyarakat luas.
“Ada betulnya juga sedikit,” ujar Purbaya kepada wartawan di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (28/10).
Fokus Bukan Sekadar Laba, Tapi Penggerak Ekonomi Daerah
Purbaya menjelaskan bahwa proyek Whoosh seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi keuntungan finansial, melainkan juga potensi pengembangan wilayah di sekitar jalur kereta cepat.
Ia menyoroti kawasan sekitar jalur Whoosh yang masih minim aktivitas ekonomi, padahal keberadaan stasiun dan infrastruktur pendukung bisa memicu pertumbuhan UMKM, pariwisata, dan sektor properti lokal.
“Yang regionalnya belum dikembangkan mungkin, di mana ada pemberhentian di sekitar jalur Whoosh supaya ekonomi sekitar itu tumbuh,” jelasnya.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya strategi lanjutan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah agar manfaat proyek tidak berhenti pada transportasi semata.
Purbaya Dukung Pengembangan Proyek Whoosh
Menkeu Purbaya menegaskan dukungannya terhadap proyek Kereta Cepat Whoosh, dengan catatan bahwa pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan dan terencana.
Menurutnya, proyek infrastruktur besar seperti ini memiliki efek berganda (multiplier effect) yang signifikan, mulai dari peningkatan mobilitas masyarakat hingga penyerapan tenaga kerja baru.
“Itu harus dikembangkan ke depan. Jadi ada betulnya,” tegasnya.
Ia juga menilai, jika dikelola dengan baik, proyek Whoosh bisa menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi regional dan mengurangi kesenjangan antarwilayah di Pulau Jawa.
Jokowi: Transportasi Publik Harus Beri Keuntungan Sosial
Sebelumnya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa transportasi publik seperti Whoosh tidak boleh hanya diukur dari keuntungan finansial.
Menurutnya, proyek semacam ini adalah bentuk layanan publik (public service) yang tujuan utamanya memberikan keuntungan sosial bagi masyarakat.
“Transportasi umum itu tidak diukur dari laba, tetapi dari keuntungan sosial,” ujar Jokowi kepada wartawan di Solo, Senin (27/10).
Jokowi menjelaskan bahwa manfaat sosial tersebut meliputi penurunan emisi karbon, pengurangan kemacetan, peningkatan produktivitas, dan efisiensi waktu tempuh.
“Produktivitas masyarakat jadi lebih baik. Polusi berkurang, waktu tempuh jauh lebih cepat. Di situlah keuntungan sosialnya,” tambahnya.
Menuju Transportasi Publik Berkelanjutan
Pandangan Jokowi dan Purbaya menunjukkan bahwa arah kebijakan transportasi nasional kini mulai bergeser dari orientasi keuntungan finansial menuju keberlanjutan sosial dan ekonomi jangka panjang.
Meski masih menuai pro dan kontra, proyek Kereta Cepat Whoosh tetap dianggap sebagai tonggak penting dalam transformasi sistem transportasi modern Indonesia, dengan harapan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. (fin)
Editor : AA Arsyadani