Jawa Pos Radar Madiun – Sosok Hoho Alkaf, Kepala Desa (Kades) Purwasaba, Banjarnegara, Jawa Tengah, tengah menjadi perbincangan publik.
Bukan karena kontroversi, melainkan karena penampilannya yang penuh tato namun berprestasi dalam membangun desa.
Sejak masa SMA, Hoho telah mulai mentato tubuhnya. Tato pertamanya bergambar bunga di dada, dibuat saat berkunjung ke Bali.
Kini, hampir 90 persen tubuhnya tertutup tato, dengan motif oriental dan empat gambar Geisha di beberapa bagian tubuh.
“Bagi saya, tato adalah seni, bukan simbol kejahatan,” ujarnya.
Meski sempat ditentang orang tua, Hoho tetap mempertahankan tato-tatonya. Dukungan dari istri dan anak membuatnya merasa lebih percaya diri.
Ia mengakui bahwa tato tidak memengaruhi profesionalisme maupun kepemimpinannya sebagai kepala desa.
Sebelum menjabat kades, Hoho adalah kontraktor dan pengusaha alat berat.
Latar belakang itulah yang membentuk kemampuannya dalam pembangunan infrastruktur desa.
Ia bahkan membangun jalan desa sepanjang 800 meter menggunakan uang pribadinya, serta menyumbangkan mobil pribadi untuk operasional desa.
Tak berhenti di situ, Hoho juga mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan unit peternakan ayam petelur yang kini mampu menghasilkan lebih dari 4 kuintal telur per hari.
Ia juga berencana membeli ambulans desa untuk menunjang pelayanan masyarakat.
Meski penampilannya kerap disalahartikan, warga justru menaruh respek tinggi terhadap kinerja Hoho.
Mereka menilai kepemimpinan dan dedikasinya jauh lebih penting daripada tampilan fisik.
“Dulu banyak yang menilai dari luarnya saja, tapi sekarang warga tahu siapa saya lewat kerja,” tutur Hoho dengan senyum santai.
Dengan prinsipnya yang tegas, Hoho Alkaf membuktikan bahwa pemimpin sejati dinilai dari kerja, bukan rupa. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani