Jawa Pos Radar Madiun - Kehadiran dr. Gia Pratama dalam podcast Raditya Dika membuat namanya kembali menjadi sorotan publik.
Gaya bertuturnya yang tenang, kisah-kisah medis yang intens, dan pengalaman hidup yang menyentuh membuat banyak orang penasaran tentang siapa sebenarnya sosok dokter yang satu ini.
Sebagai dokter, penulis, sekaligus pembicara publik, ia berhasil menarik perhatian audiens yang lebih luas lewat perpaduan profesionalitas dan sisi humanisnya.
Dr. Gia Pratama, lahir pada 31 Agustus 1985, menempuh pendidikan kedokteran di Universitas YARSI. Meski masa kecilnya diwarnai cita-cita menjadi astronaut, pengalaman koas justru mengarahkan jalannya pada dunia medis.
Ia pernah menjalani masa pendidikan klinis di sejumlah rumah sakit daerah seperti RSUD Garut dan RSUD Serang, yang mempertemukannya dengan berbagai situasi darurat dan kasus-kasus penuh tekanan.
Dalam perjalanan kariernya, dr. Gia dikenal sebagai dokter gawat darurat yang berpengalaman. Ia pernah dipercaya sebagai Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Prikasih dan RSUP Fatmawati Jakarta Selatan.
Selama bertugas, ia menghadapi berbagai kondisi ekstrem, termasuk kasus ibu korban KDRT yang akhirnya meninggal setelah mendapat perawatan intensif. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling emosional dalam hidupnya sebagai tenaga medis.
Kisah lain yang tak kalah dramatis terjadi saat ia membantu 25 proses persalinan dalam satu hari saat bertugas di RSUD Garut.
Situasi itu menguji ketepatan keputusan dan stamina fisik sekaligus memperkaya pengalamannya dalam menangani kasus-kasus tak terduga.
Pengalaman-pengalaman ini kemudian membentuk karakter dr. Gia sebagai dokter yang cekatan dan memiliki kepekaan tinggi terhadap kondisi pasien.
Selain aktif di IGD, dr. Gia juga dikenal sebagai health promoter yang aktif mengedukasi masyarakat melalui media sosial.
Ia menjelaskan isu kesehatan dengan bahasa ringan yang mudah dipahami, sehingga publik tidak merasa terbebani oleh istilah medis yang rumit. Pendekatan komunikasinya membuat edukasi kesehatan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kemampuan menulis dr. Gia juga menjadi pembeda. Karyanya yang paling dikenal, novel #Berhentidikamu, berangkat dari kisah cintanya dengan sang istri, Syafira, yang bermula dari sebuah peristiwa medis tak terduga.
Kisah tersebut sempat viral di media sosial, terutama Twitter, sebelum akhirnya diadaptasi menjadi film pada tahun 2020.
Karya lainnya, Perikardia (2019), mengeksplorasi sisi emosional manusia melalui sudut pandang yang lebih reflektif.
Popularitas dr. Gia semakin meluas setelah tampil di podcast Raditya Dika. Dalam obrolan tersebut, ia membagikan berbagai pengalaman dramatis selama bertugas di IGD, termasuk cerita tentang pasien dengan kondisi rahim yang terlepas pada tengah malam.
Cerita-ceritanya membuka perspektif baru tentang dunia medis, menampilkan kerasnya kehidupan di IGD sekaligus sisi humanis seorang dokter yang harus mengambil keputusan cepat dalam kondisi genting.
(*/naz)
Penulis: Nazala Syifa Julieta/Politeknik Negeri Madiun