Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Profil dan Perjalanan Ki Hajar Dewantara: Jurnalis, Aktivis, dan Pendiri Taman Siswa yang Lepas Gelar Bangsawan

Satrio Jati • Selasa, 25 November 2025 | 17:18 WIB
Ki Hajar Dewantara, dari bangsawan, aktivis pergerakan, lalu menjadi pendiri Taman Siswa.
Ki Hajar Dewantara, dari bangsawan, aktivis pergerakan, lalu menjadi pendiri Taman Siswa.

Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan hidup Ki Hajar Dewantara (Raden Mas Soewardi Soerjaningrat) adalah kisah seorang bangsawan yang mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan kemerdekaan melalui jalur pendidikan.

Ia lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889, tanggal yang kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Lahir di lingkungan bangsawan Pura Pakualaman Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara merupakan putra Pangeran Soerjaningrat.

Setelah menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), ia melanjutkan studi ke STOVIA (Sekolah Dokter Jawa) di Jakarta. Namun pendidikannya terhenti karena kondisi kesehatan.

Setelah keluar dari STOVIA, Soewardi memilih jalur jurnalistik.

Ia menulis di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, dan Tjahaja Timoer.

Gaya tulisannya komunikatif, argumentatif, sekaligus tajam dalam mengkritik pemerintah kolonial.

Kiprah organisasinya dimulai ketika bergabung dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam.

Bersama EFE Douwes Dekker dan dr Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij pada 1912, organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan Indonesia.

Pada 1913, ia ditangkap dan diasingkan ke Belanda karena tulisannya yang terkenal, “Als Ik een Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda), sebuah kritik keras terhadap rencana pemerintah kolonial merayakan kemerdekaan Belanda dari Prancis di tanah jajahan.

Namun masa pengasingan justru menjadi titik penting.

Di Belanda, Ki Hajar Dewantara memperdalam ilmu pendidikan dan filsafat pengajaran. Pengetahuan itu kelak menjadi dasar gagasan pendidikan nasional Indonesia.

Sekembalinya ke Tanah Air, ia mendirikan Nationaal Onderwijs Taman Siswa di Yogyakarta pada 3 Juli 1922.

Taman Siswa hadir sebagai lembaga pendidikan bagi rakyat pribumi, membuka kesempatan belajar tanpa memandang status sosial maupun ekonomi.

Pada usia 40 tahun, Soewardi melepas gelar kebangsawanannya dan mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara, sebagai simbol kedekatan dengan rakyat.

Usai kemerdekaan Indonesia, ia dipercaya menjadi Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan yang pertama, jabatan yang kini dikenal sebagai Menteri Pendidikan.

Ia meninggalkan warisan besar melalui semboyan pendidikan yang hingga kini menjadi ruh pembelajaran nasional:

Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di depan, memberi teladan)

Ing Madya Mangun Karsa (Di tengah, membangun semangat)

Tut Wuri Handayani (Di belakang, memberi dorongan)

Warisan pemikirannya menjadikan Ki Hajar Dewantara layak dikenang sebagai Bapak Pendidikan Nasional. (rio/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#guru #perjalanan #pendidikan #ki hadjar dewantara #taman siswa