Jawa Pos Radar Madiun - Pada momen Hari Guru Nasional yang jatuh hari ini, Selasa (25/11), sosok Oemar Bakri kembali hangat diperbincangkan.
Tokoh yang dipopulerkan Iwan Fals lewat lagu legendaris Guru Oemar Bakri itu kerap dianggap sebagai figur fiktif.
Namun, ternyata ia memiliki rujukan nyata yang mengakar pada kehidupan seorang guru sederhana.
Oemar Bakri digambarkan sebagai guru berdedikasi tinggi, jujur, dan setia mengabdi hingga puluhan tahun, meski hidup dengan kesejahteraan yang minim.
Representasi itulah yang ingin dikritisi Iwan Fals.
Oemar Bakri adalah pendidik yang tidak pernah lelah mencetak generasi, tetapi tidak selalu mendapatkan penghargaan yang layak.
Iwan Fals mengungkapkan bahwa karakter itu sebenarnya terinspirasi dari guru SMP-nya di Bandung, Abah Landoeng.
Sosok yang mulai mengajar sejak tahun 1950 itu bahkan pernah menjadi guru sukarelawan untuk mengajarkan baca tulis dan berhitung kepada para pedagang di sekitar Bandung.
Abah Landoeng, guru Fisika dan Olahraga di SMP 5 Bandung, dikenal sebagai pribadi sederhana namun penuh dedikasi.
Beberapa detail dalam lagu seperti “tas hitam dari kulit buaya” atau “laju sepeda kumbang di jalan berlubang”diyakini merujuk pada atribut yang dulu identik dengan dirinya.
Secara keseluruhan, lagu “Guru Oemar Bakri” merupakan kritik sosial terhadap rendahnya penghargaan terhadap profesi guru.
Momentum Hari Guru Nasional ini menjadi pengingat bahwa dedikasi seperti milik Abah Landoeng nyata adanya dan masih hidup dalam jati diri banyak guru di Indonesia. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani