Jawa Pos Radar Madiun - Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik.
Sepekan setelah erupsi besar pada Rabu (19/11), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan adanya 38 kali letusan hanya dalam rentang enam jam pada Selasa (25/11).
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, menyampaikan kondisi terkini dari lapangan.
"Berdasarkan pengamatan Selasa (25/11) periode 00.00–06.00 WIB, cuaca cerah, gunung api terlihat jelas, angin bertiup lemah ke arah utara, dan suhu udara 20–21 °C," tuturnya.
Meski cuaca kondusif, PVMBG menegaskan bahwa status Gunung Semeru belum dapat diturunkan dari Level IV (Awas).
Aktivitas kegempaan masih menunjukkan intensitas yang tinggi, sehingga potensi bahaya tetap signifikan.
Aktivitas Kegempaan Masih Tinggi
Liswanto memaparkan detail aktivitas gempa yang terekam sepanjang Selasa dini hari.
"Seperti hari ini, Gunung Semeru dilaporkan mengalami 38 kali gempa letusan dengan amplitudo 11–22 milimeter dan lama gempa 58–127 detik. Terjadi pula 3 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–4 mm. Kemudian 3 kali gempa hembusan dengan amplitudo 4–5 milimeter, dan lama gempa 39–49 detik, serta 1 kali Harmonik dengan amplitudo 7 milimeter, dan lama gempa 114 detik," sambungnya.
Dengan data tersebut, PVMBG tetap menetapkan status Semeru di tingkat tertinggi.
Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh imbauan keamanan.
Baca Juga: Ratusan Siswa Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Meriahkan Hari Guru Nasional 2025 di Malaysia
Imbauan Ketat bagi Warga Setempat
PVMBG meminta masyarakat menjauhi sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 20 kilometer dari puncak.
Di luar itu, warga tetap diminta menjauh minimal 500 meter dari bantaran sungai yang berpotensi dilalui aliran lahar.
"Karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar. Masyarakat juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 8 kilometer dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu," tegas Liswanto.
Selain itu, potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sungai-sungai berhulu Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, masih menjadi ancaman serius.
Kronologi Singkat Erupsi Semeru
-
Erupsi terjadi Rabu, 19 November pukul 14.13 WIB.
-
Kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak (total ketinggian 5.676 mdpl).
-
Awan panas tebal bergerak ke arah utara dan barat laut.
-
Seismogram mencatat amplitudo maksimum 40 mm dengan durasi 16 menit 40 detik.
-
Dua kecamatan terdampak: Pronojiwo dan Candipuro.
-
Hingga Senin malam (24/11), terdapat 418 pengungsi, dengan 3 warga mengalami luka bakar.
Aktivitas yang terus meningkat membuat Semeru tetap dalam pengawasan ketat.
Pemerintah dan tim kebencanaan menghimbau masyarakat agar tetap mengikuti perkembangan resmi dan tidak mendekati zona berbahaya. (fin)
Editor : AA Arsyadani