Jawa Pos Radar Madiun - Cuaca ekstrem yang menghantam wilayah Sumatera Barat (Sumbar) beberapa hari terakhir menyebabkan bencana banjir dan longsor yang terus berlangsung hingga Rabu, 27 November.
Dampaknya bukan hanya kerusakan infrastruktur, tetapi juga menelan korban jiwa.
Sebanyak 12 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 12 ribu warga terdampak langsung oleh bencana ini.
Dalam rapat penanggulangan bencana Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumbar yang digelar secara daring dan luring bersama pemerintah pusat, Wakil Gubernur Sumbar Vasko Ruseimy menegaskan bahwa seluruh jajaran masih fokus pada operasi penanganan darurat.
“Data terakhir di Sumatera Barat, korban meninggal dunia sebanyak 12 orang dan warga terdampak sekitar 12 ribu jiwa,” ujar Vasko.
Pada kesempatan itu, Vasko juga memaparkan berbagai kendala yang dihadapi tim di lapangan.
Mulai dari akses komunikasi yang terputus, proses pembersihan material banjir dan longsor, hingga perbaikan infrastruktur vital yang mengalami kerusakan parah.
“Titik longsor di badan jalan yang amblas, pohon tumbang di beberapa kabupaten dan kota,” imbuhnya.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi BPBD Provinsi Sumbar, cuaca ekstrem dalam beberapa hari terakhir berdampak pada 17 kelurahan di 7 kecamatan di Kota Padang.
Selain banjir, longsor, dan pohon tumbang di 14 titik, BPBD masih melakukan pemutakhiran data mengingat situasi yang terus berubah.
“Kami telah menetapkan status tanggap darurat dan juga beberapa kabupaten dan kota yang terdampak cuaca ekstrem. Sejumlah wilayah akan menyusul dalam penetapannya,” lanjut Vasko.
Fenomena cuaca ekstrem ini tidak lepas dari pengaruh Siklon Tropis Senyar, yang berasal dari bibit 95B dan terdeteksi sejak Jumat lalu, 21 November.
Pergerakan siklon tersebut memicu hujan deras, angin kencang, banjir, serta longsor di tiga provinsi sekaligus: Aceh, Sumut, dan Sumbar.
Saat ini pemerintah bersama berbagai lembaga terkait terus memprioritaskan evakuasi, penyelamatan korban, serta pemulihan akses di wilayah terdampak.
Ancaman cuaca ekstrem masih mungkin berlanjut sehingga masyarakat diminta tetap waspada. (fin)
Editor : AA Arsyadani