Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Siapa Sangka, Cikal Bakal BRI Berawal dari Dana Kas Masjid Purwokerto

Hengky Ristanto • Jumat, 5 Desember 2025 | 02:19 WIB
BRI merayakan usia 130 tahun, membawa sejarah panjang sejak berdiri dari kas Masjid Purwokerto pada 1895.
BRI merayakan usia 130 tahun, membawa sejarah panjang sejak berdiri dari kas Masjid Purwokerto pada 1895.

Jawa Pos Radar Madiun – Bank Rakyat Indonesia (BRI) menapaki usia 130 tahun dengan sejarah panjang yang tak banyak diketahui publik.

Lembaga keuangan yang kini menjadi salah satu terbesar di Indonesia itu ternyata lahir dari inisiatif seorang patih di Purwokerto, Raden Aria Wirjaatmadja, yang memanfaatkan kas Masjid Purwokerto untuk membantu pegawai pribumi.

Cikal bakal BRI bermula pada 16 Desember 1895 ketika Wirjaatmadja mendirikan Hulp en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Pertolongan dan Tabungan Priyayi Purwokerto.

Sebelum lembaga itu berdiri resmi, Wirjaatmadja kerap menggunakan dana pribadinya untuk menolong pegawai yang membutuhkan pinjaman.

Namun tingginya permintaan membuat ia mencari sumber pendanaan baru.

Dorongan itu melahirkan gagasan memanfaatkan kas masjid setelah berdiskusi dengan orang-orang kepercayaan, seperti Atma Sapradja, Atma Soebrata, dan Djaja Soemitra.

Penghulu Masjid Purwokerto, Kiai Mohammad Redja Soepena, beserta Asisten Residen E. Sieburgh, memberikan restu.

Namun aturan pemerintah Hindia Belanda kala itu melarang penggunaan dana masjid untuk kepentingan di luar ibadah sehingga skema itu harus dihentikan.

Meski demikian, kegiatan peminjaman tetap berjalan. Para debitur mengembalikan pinjaman secara tertib sehingga meningkatkan kepercayaan publik.

Perkembangan positif tersebut menarik perhatian para priyayi Eropa penganut politik etis.

Investor mulai masuk, dan lembaga keuangan itu dinilai layak berkembang menjadi sarana kredit masyarakat.

Seiring perjalanan waktu, lembaga tersebut mengalami beberapa perubahan nama mulai dari Volksbank hingga Algemene Volkscredietbank (aVB) pada 1934, lalu menjadi Syomin Ginko pada masa pendudukan Jepang.

Setelah kemerdekaan, peran BRI ditegaskan melalui Undang-Undang 21/1968 sebagai bank umum yang menjalankan fungsi pembangunan.

Corporate Secretary BRI Dhanny menegaskan bahwa perjalanan lebih dari satu abad menjadikan BRI sebagai institusi penting dalam memperkuat inklusi keuangan nasional.

“BRI memiliki komitmen menghadirkan akses layanan keuangan yang merata hingga pelosok negeri,” ujarnya.

Kini BRI berkembang sebagai bank berbasis UMKM dengan jaringan layanan terbesar di Indonesia. Holding Ultra Mikro yang terdiri dari BRI, Pegadaian, dan PNM telah menjangkau 34,5 juta debitur aktif.

Layanan digital BRImo mencatat lebih dari 44,4 juta pengguna, sementara AgenBRILink tersebar di 66.648 desa.

Dengan lebih dari 160 juta nasabah, BRI berperan dalam penyaluran KUR, mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), memperkuat Koperasi Desa Merah Putih, hingga menyalurkan pembiayaan rumah FLPP untuk lebih dari 25 ribu unit.

Warisan panjang sejak ide kas masjid Purwokerto kini menjadikan BRI bagian penting dari pembangunan ekonomi rakyat. (*)

Editor : Hengky Ristanto
#BRI 130 tahun #kas masjid Purwokerto #Ultra Mikro BRI #AgenBRILink #Raden Aria Wirjaatmadja #bank rakyat indonesia #BRI 2025 #sejarah Bank Indonesia #Sejarah BRI