Jawa Pos Radar Madiun - Laju deforestasi di Indonesia kembali menjadi sorotan.
Dalam tiga dekade terakhir, hutan di Sumatera Barat dan Sumatera Utara dilaporkan menyusut drastis hingga 1,2 juta hektare.
Separuh dari hutan yang hilang itu beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.
Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap kelestarian lingkungan, keseimbangan ekosistem, hingga keselamatan manusia.
Hutan yang selama ini berperan sebagai paru-paru dunia kini menghadapi ancaman besar akibat alih fungsi lahan yang masif.
Dampaknya bukan hanya mengancam habitat satwa liar, tetapi juga meningkatkan risiko bencana ekologis seperti banjir, longsor, hingga krisis air bersih.
Komedian sekaligus anggota DPD RI, Alfiansyah Bustami atau Komeng, sebelumnya telah mengingatkan pemerintah soal bahaya deforestasi.
Peringatan itu disampaikan langsung kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam sebuah acara resmi pada September 2025.
"Alhamdulillah, terima kasih, saya bisa bertemu dengan kementerian yang selalu ulang tahun, Kemenhut. Sebuah kementerian yang dinasnya tidak ada urusan dengan kesehatan, tapi menjaga paru-paru. Dan paru-paru ini bukan manusia, paru-paru dunia," ujar Komeng, disambut tepuk tangan hadirin.
Komeng menegaskan bahwa kerusakan hutan di berbagai daerah telah menimbulkan dampak nyata.
Salah satunya adalah banjir yang kerap melanda Jakarta dan Jawa Barat, yang menurutnya tak lepas dari rusaknya kawasan hulu dan hutan adat.
"Hilangnya hutan seperti di Ciamis, hutan adat sudah hampir hilang. Di Jakarta banjir tapi kita selalu disalahkan, banjir katanya dari Jabar. Mohon perlindungannya Pak Menteri," kata Komeng.
Baca Juga: Breaking News! Penembakan di Universitas Brown AS, Dua Orang Tewas dan Sejumlah Korban Luka
Ia mengakui, upaya menjaga kelestarian hutan bukan perkara mudah.
Tantangan pemenuhan pangan dan ambisi menjadi lumbung pangan nasional kerap berbenturan dengan upaya konservasi alam.
Namun, menurut Komeng, alam memiliki hukum sendiri yang akan bereaksi ketika terus dieksploitasi.
Dalam kesempatan tersebut, Komeng juga menyinggung komitmen Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang dinilainya memiliki perhatian serius terhadap pelestarian lingkungan.
"Walaupun gubernur kita dari Jabar, KDM, Komeng dan Mulyadi sudah memerintahkan untuk jaga hutan, jaga satwa, jaga mata air, sampai jaga malam, untuk jaga hutan ini bagaimana caranya," ujar Komeng sembari berkelakar.
Ia menutup dengan refleksi bahwa dilema antara pembukaan lahan dan pelestarian hutan harus segera dicarikan solusi berkelanjutan.
"Dan memang agak sulit. Di satu sisi, kita membuka hutan untuk pangan karena ingin jadi lumbung pangan, dan di satu sisi hutannya jadi semakin hilang," imbuhnya. (fin)
Editor : AA Arsyadani