Jawa Pos Radar Madiun – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengumumkan hasil rerata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 jenjang SMA sederajat.
Antropologi mencatat nilai rata-rata tertinggi, sementara Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran dengan capaian terendah secara nasional.
Berdasarkan data resmi Kemendikdasmen, rerata nilai tertinggi pada mata pelajaran wajib diraih Antropologi dengan skor 70,43.
Sebaliknya, Bahasa Inggris Wajib berada di posisi terbawah dengan rerata 24,93 dari skala maksimum 100.
Selain Bahasa Inggris, capaian rendah juga tercatat pada Matematika dengan nilai rata-rata 36,10.
Untuk mata pelajaran pilihan, skor terendah antara lain Bahasa Korea sebesar 28,55 dan Ekonomi 31,68.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin menegaskan bahwa hasil TKA tidak dimaksudkan sebagai alat pemeringkatan atau penentu kelulusan.
“Kita lihat capaian rata-rata menunjukkan variasi antarmata pelajaran yang mencerminkan perbedaan karakteristik kompetensi, tingkat kesulitan, dan pilihan murid. Rerata tertinggi tercatat pada Antropologi dengan rata-rata sekitar 70,4,” ujar Toni dalam Taklimat Media TKA di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta Pusat, Senin (22/12).
Selain Antropologi, sejumlah mata pelajaran lain mencatat capaian relatif tinggi. Geografi berada di kisaran 70,3, Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut sekitar 68, serta Bahasa Arab dan Sejarah yang berada di atas 64.
“Capaian ini menunjukkan penguasaan kompetensi yang relatif kuat pada mata pelajaran yang dimaksud,” kata Toni.
Menurut Toni, data TKA merupakan potret kompetensi akademik nasional yang digunakan sebagai dasar refleksi dan perbaikan pembelajaran, bukan sebagai alat pembanding antar sekolah atau daerah.
“Penting kami tegaskan sejak awal bahwa hasil TKA ini bukan untuk me-ranking sekolah, apalagi membandingkan daerah secara sederhana,” ungkapnya.
Dalam pengolahan nilai, Kemendikdasmen menerapkan pendekatan Item Response Theory (IRT) model dua parameter logistik.
Metode ini tidak hanya menghitung jumlah jawaban benar, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya beda setiap soal.
“Dengan menggunakan model dua logistik parameter yang tidak hanya melihat jumlah yang benar, tetapi juga mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya beda setiap butir soal,” jelas Toni.
Ia menambahkan bahwa penentuan kategori capaian dilakukan melalui proses standard setting yang melibatkan 125 guru dari berbagai provinsi, sehingga penilaian dilakukan secara adil, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Skor ini kita transformasikan ke skala 0 sampai 100, dan nilai batas capaian TKA ini tidak ditentukan sepihak,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen Rahmawati memastikan hasil TKA SMA 2025 akan diumumkan pada Selasa, 23 Desember 2025 dan langsung terintegrasi dengan sistem Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
“Murid eligible tidak perlu meng-upload hasil TKA. Nilai akan langsung diverifikasi dan ditarik oleh perguruan tinggi negeri,” ujar Rahmawati.
Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan asesmen nasional bersifat sukarela yang bertujuan mengukur capaian akademik murid sesuai kurikulum.
Tahun 2025, TKA diterapkan pada siswa kelas 12 SMA, dan akan diperluas ke jenjang SMP dan SD pada tahun berikutnya.
Editor : Ockta Prana Lagawira