Jawa Pos Radar Madiun - Kepadatan Embarkasi Surabaya kembali menjadi sorotan.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mulai melirik Bandara Internasional Dhoho, Kediri, sebagai solusi jangka menengah untuk mengurai beban pemberangkatan jamaah haji, khususnya dari wilayah Jawa Timur.
Rencana ini disampaikan langsung Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, saat membuka seleksi Computer Assisted Test (CAT) Petugas Haji Daerah sekaligus meninjau kesiapan Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Kamis siang (22/1).
"Bandara Kediri kami pilih sebagai alternatif embarkasi, karena secara teknis sudah memenuhi syarat semuanya, tinggal tahun depan kita siapkan," ujar ulama yang akrab disapa Gus Irfan itu.
Menurut Gus Irfan, Bandara Internasional Dhoho memiliki posisi strategis untuk melayani jamaah haji dari wilayah Jawa Timur bagian selatan.
Pemanfaatan bandara ini diharapkan mampu mengurangi tekanan operasional di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, yang selama ini menjadi titik keberangkatan utama.
"Sebetulnya kita bisa (menggunakan Bandara Internasional Dhoho, Kediri) tahun ini, tetapi karena kesiapannya baru muncul belakangan, jadi agak terlambat, sehingga kita pastikan tahun depan kita pakai Kediri," imbuhnya.
Sebagai catatan, Embarkasi Surabaya merupakan salah satu embarkasi terpadat di Indonesia.
Pada penyelenggaraan ibadah haji 2025, embarkasi ini melayani 36.845 jamaah haji yang terbagi dalam 97 kelompok terbang (kloter).
Kepadatan bahkan meningkat pada musim haji 2026.
Dari total 528 kloter nasional, Embarkasi Surabaya mencatat jumlah kloter terbanyak, yakni 116 kloter.
Tingginya angka tersebut tak lepas dari cakupan wilayah layanan yang luas.
Selain melayani jamaah dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, Embarkasi Surabaya juga menjadi titik keberangkatan jamaah dari Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kondisi inilah yang mendorong Kemenhaj RI untuk mencari alternatif embarkasi baru demi meningkatkan kenyamanan dan efisiensi perjalanan jamaah.
Meski Bandara Dhoho Kediri belum memiliki Asrama Haji, Kemenhaj memastikan pembagian jamaah akan disesuaikan berdasarkan kedekatan wilayah agar perjalanan tetap efisien.
"Nggak ada Asrama Haji di Kediri. (Nanti pembagiannya jamaah bagaimana?) Ya tentu kita bagi mana yang lebih dekat, supaya lebih efisien, lebih efektif, tidak terlalu memberikan rasa capek kepada jamaah," tegas Irfan.
Jika seluruh persiapan berjalan sesuai rencana, Bandara Internasional Dhoho Kediri akan mulai digunakan sebagai embarkasi alternatif pada penyelenggaraan ibadah haji tahun 2027. (fin)
Editor : AA Arsyadani