Jawa Pos Radar Madiun – Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Namun kali ini, bukan karena prestasi gemilang atau kekayaan alamnya yang melimpah.
Nama Indonesia justru menjadi perbincangan di media Australia karena fakta yang menyayat hati: Rendahnya gaji guru honorer.
Di tengah gaung cita-cita menuju Indonesia Emas 2045, dunia justru dibuat terbelalak melihat realita bahwa pahlawan tanpa tanda jasa di negeri ini masih ada yang digaji tak masuk akal, yakni kisaran Rp 500 ribu hingga Rp 700 ribu per bulan.
"Di Indonesia, terutama guru honorer, masih banyak yang pendapatannya kisaran Rp 500 ribu atau Rp 700 ribu," ungkap Diah, dalam sebuah wawancara yang kemudian dikutip media Australia dan menjadi viral.
Perbandingan yang "Memalukan" Wajah Bangsa
Sorotan media asing ini menjadi tamparan keras bagi martabat bangsa. Ketika negara-negara maju berlomba memuliakan guru sebagai profesi paling strategis, Indonesia seolah berjalan mundur.
Data perbandingan gaji guru per tahun di berbagai negara ini membuat kita mengelus dada:
-
Swiss: Rp 1,92 Miliar
-
Luksemburg: Rp 1,17 Miliar
-
Jerman: Rp 1,15 Miliar
-
Amerika Serikat: Rp 738 Juta
-
Jepang: Rp 27–44 Juta (per bulan)
-
Indonesia (Honorer): Rp 500 Ribu – Rp 700 Ribu (per bulan)
Jurang perbedaan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin bagaimana sebuah negara menghargai masa depannya.
Baca Juga: Dinkes Magetan Catat 12 Kasus DBD, Ban Bekas Jadi Sarang Nyamuk Terbanyak
Jebakan Ikhlas: Romantisasi Kemiskinan
Di Indonesia, ketidakadilan ini seringkali dibungkus dengan narasi manis bernama "pengabdian" dan "keikhlasan".
Berbeda dengan buruh pabrik yang setiap tahun menuntut kenaikan UMK, guru diminta untuk nrimo ing pandum. Seolah-olah, menjadi pendidik harus satu paket dengan hidup pas-pasan.
Padahal, beban kerja mereka nyata:
-
Menghabiskan waktu lebih lama dengan anak didik dibanding orang tua kandung.
-
Mendidik karakter dan akademik sekaligus.
-
Bahkan, tak jarang guru honorer menyisihkan gaji kecilnya untuk membantu murid yang kurang mampu.
Ini bukan lagi soal pengabdian, melainkan ketidakadilan sistemik yang dilegalkan dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Hore! Ada Long Weekend Empat Hari Pertengahan Februari 2026, Libur Imlek Ditambah Cuti Bersama
Negeri Kaya, Guru Sengsara: Sebuah Paradoks
Indonesia bukan negara miskin. APBN kita bernilai ribuan triliun rupiah. Proyek strategis nasional terus berjalan. Namun, mengapa untuk fondasi bangsa, negara seolah kehabisan uang?
Bagbagaimana mungkin kita bicara soal Bonus Demografi dan daya saing global, jika orang-orang yang bertugas mencetak generasi emas itu dipaksa hidup di bawah garis kelayakan?
Sorotan dari Australia ini seharusnya membuat para pemangku kebijakan malu.
Menyejahterakan guru bukanlah hadiah atau belas kasihan, melainkan kewajiban konstitusional.
Jika Indonesia ingin dihormati dunia, mulailah dengan menghormati gurunya sendiri. Bangsa yang besar tidak diukur dari gedung pencakar langitnya, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan para pendidiknya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani