Jawa Pos Radar Madiun – Polemik penghapusan simbol daerah di Kabupaten Kulon Progo mendapat tanggapan dari sang inisiator, Hasto Wardoyo.
Mantan Bupati Kulon Progo periode 2011-2019 yang kini menjabat sebagai Wali Kota Yogyakarta itu menanggapi santai kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo yang mulai melucuti simbol Geblek Renteng di berbagai fasilitas publik.
Alih-alih marah atau melontarkan kritik pedas, Hasto justru menunjukkan sikap legawa. Ia mengaku tidak mempermasalahkan jika simbol yang ia perjuangkan selama hampir dua periode kepemimpinannya itu kini diganti atau dihapus.
"Kalau nyesel tidak. Saya senyum aja lah," ujar Hasto saat ditemui di Balai Kota Yogyakarta.
Hasto enggan mengkritik kebijakan pelucutan tersebut.
Ia memilih berpikir positif bahwa kepala daerah yang baru di Kulon Progo mungkin memiliki visi untuk melahirkan penanda daerah yang lebih baik dan relevan.
"Karena mungkin (Kulon Progo) juga butuh aktualisasi yang kekinian," tambahnya.
Baginya, simbol Geblek Renteng ibarat sebuah karya seni. Ketika karya tersebut diganti atau tidak lagi digunakan, hal itu adalah dinamika biasa yang tidak perlu disesali berlarut-larut.
Filosofi Ekonomi di Balik Batik Geblek Renteng
Meski menanggapi dengan senyuman, Hasto mengingatkan bahwa lahirnya Geblek Renteng bukan proses instan.
Simbol ini dipilih melalui perenungan panjang dan sarat filosofi ekonomi.
Hasto menjelaskan, jika hanya melihat "geblek" sebagai makanan, dampaknya terhadap kesejahteraan mungkin terbatas karena soal selera rasa.
Namun, ketika ditransformasikan menjadi motif batik, nilai ekonominya melonjak drastis.
Di masa kepemimpinannya, simbol geblek renteng dikembangkan dalam motif batik. Sehingga dapat mengangkat ekonomi masyarakat melalui penjualan kain khas Yogyakarta itu.
Peringatan Hasto: Ganti Simbol Itu Rumit dan Butuh Waktu
Hasto juga memberikan pandangan realistis terkait upaya penggantian simbol daerah.
Menurutnya, menciptakan branding baru tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Ia mengingatkan bahwa proses legalitas seperti Hak Kekayaan Intelektual (HKI) memakan waktu lama.
"Apalagi menyiapkan batik (pengganti geblek renteng) kan tidak cukup 1,5 tahun karena harus mengurus hak kekayaan intelektual juga. Kalau mulai dari nol, nanti di masa jabatan (bupati baru) sudah habis belum selesai kan repot," papar Hasto.
Baca Juga: Selundupkan HP ke Lapas Madiun, Dua Pengunjung Ketahuan Lakban Barang di Kaki
Janji Teruskan Program Baik Pendahulu
Sebagai penutup, Hasto menegaskan prinsip kepemimpinannya saat ini sebagai Wali Kota Yogyakarta.
Berbeda dengan pendekatan "menghapus" jejak pendahulu, Hasto berkomitmen melanjutkan program-program baik dari wali kota sebelumnya.
Ia menyebut program seperti Segoro Amarto, Gandeng Gendong, dan Sego Segawe akan tetap ia pertahankan.
"Menurut saya itu akan saya lanjutkan," tegasnya, seolah memberikan kontras dengan apa yang terjadi pada warisannya di Kulon Progo. (naz)
Editor : Mizan Ahsani