Jawa Pos Radar Madiun – Isu dugaan kekerasan yang menyeret seorang pemain berlabel Timnas Indonesia kembali menghebohkan jagat media sosial.
Kasus ini muncul setelah pengakuan seorang perempuan anonim di platform Threads viral dan memicu spekulasi luas di kalangan warganet.
Publik kini ramai menebak identitas sang pemain, termasuk klub tempatnya bernaung. Nama PSM Makassar dan Persis Solo pun ikut terseret dalam pusaran isu tersebut.
Awal Mula Kasus Dugaan Kekerasan
Kasus ini bermula dari unggahan akun Threads @myamoureeeee yang mengaku menjadi korban kekerasan fisik oleh kekasihnya.
Sosok pria tersebut disebut merupakan pemain Timnas Indonesia yang masih aktif bermain di kompetisi Super League atau Liga 1.
Sejujurnya, hubungan mereka telah berjalan sekitar lima bulan. Ia mengaku awalnya menginginkan hubungan yang tenang, namun situasi berubah setelah muncul dugaan perselingkuhan.
“Awalnya aku pengen hubungan normal, tenang dan tanpa drama,” tulisnya.
Konflik tersebut kemudian berakhir pada pertengkaran hebat yang disertai tindakan kekerasan fisik.
Baca Juga: Jauhkan Kekerasan dari Sekolah, Pemerintah Terbitkan Permendikbudristek PPKSP
Pengakuan Korban dan Bukti Foto
Perempuan tersebut mengklaim mengalami perlakuan kasar seperti dibanting dan dicekik hingga kesulitan bernapas.
Ia juga membagikan foto kondisi yang disebut sebagai bukti dugaan kekerasan.
“Dia cekik aku dua atau tiga kali sampai aku nggak bisa bergerak,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Selain itu, korban menyebut bahwa kekerasan terjadi saat mereka berada di Yogyakarta dalam rangka mengikuti laga tandang sang pemain.
Clue “Jauh ke Jogja” Picu Spekulasi
Salah satu petunjuk utama yang memicu perburuan identitas adalah keterangan bahwa kejadian terjadi ketika sang pemain menjalani laga tandang ke Jogja pada 6 Februari 2026.
Informasi ini kemudian dikaitkan dengan jadwal klub-klub Liga 1 yang bertanding di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Akun-akun sepak bola dan netizen mulai mencocokkan data jadwal pertandingan, termasuk laga di Stadion Maguwoharjo, Sleman.
“Clue-nya: Berangkat ke Jogja tanggal 6 Februari,” tulis akun Threads @infosepakbola_idn.
PSM Makassar dan Persis Solo Terseret
Dari penelusuran warganet, nama PSM Makassar dan Persis Solo menjadi dua klub yang paling banyak disebut.
Beberapa warganet menjalin kasus ini dengan laga PSBS Biak vs PSM Makassar di Stadion Maguwoharjo pada 8 Februari 2026.
Sementara itu, sebagian lainnya sempat menduga pemain Persis Solo sebagai pelaku tak terduga.
Namun, ada pula warganet yang mengatakan bahwa skuad Persis telah berada di Bantul sejak tanggal 5 Februari, sehingga dianggap kurang sesuai dengan kronologi.
Perbedaan informasi ini membuat spekulasi semakin berkembang tanpa kepastian.
Baca Juga: ratusan Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual
Unggahan Dihapus, Akun Menghilang
Dalam perkembangan terbaru, akun @myamoureee dilaporkan telah menghapus seluruh utas sekaligus menonaktifkan akunnya. Hal ini membuat validitas dan kelanjutan kasus semakin sulit dipastikan.
Meski begitu, tangkapan layar unggahan tersebar luas dan terus menjadi bahan perbincangan di berbagai platform media sosial.
Belum Ada Klarifikasi Resmi
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak klub, federasi, maupun pemain Timnas Indonesia terkait dugaan tersebut.
Wajah pria yang ditampilkan dalam unggahan juga disamarkan, sehingga publik belum dapat memastikan identitasnya.
Baik PSM Makassar, Persis Solo, maupun klub lain yang ikut disebut, belum memberikan klarifikasi terbuka. PSSI juga belum mengeluarkan sikap resmi terkait isu ini.
Baca Juga: Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Naik Signifikan
Warganet Diminta Tidak Berspekulasi
Di tengah derasnya spekulasi, sejumlah pihak mengimbau publik untuk tidak menyebarkan tuduhan tanpa dasar hukum yang jelas.
Kasus dugaan kekerasan merupakan persoalan serius yang seharusnya diselesaikan melalui jalur hukum dan investigasi resmi, bukan sekadar dugaan di media sosial.
Sampai ada klarifikasi atau proses hukum yang sah, identitas pelaku tak terduga masih bersifat dugaan dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Perkembangan selanjutnya masih dinantikan publik, khususnya dari pihak terkait yang memiliki kewenangan untuk mengungkap fakta sebenarnya. (*)
*Nizaria Kusumastuti, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Mizan Ahsani