Jawa Pos Radar Madiun – Masyarakat di wilayah Madiun Raya dan sekitarnya dikejutkan dengan guncangan hebat pada Jumat dini hari (6/2) lalu.
Gempa berkekuatan magnitudo 6,2 yang berpusat di tenggara Pacitan tersebut dikonfirmasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai aktivitas nyata dari zona Megathrust Jawa.
Meskipun gempa kali ini tidak memicu tsunami, peristiwa ini menjadi pengingat keras akan potensi energi raksasa yang masih terkunci di bawah samudera selatan Pulau Jawa.
Gempa Pacitan: Karakteristik Megathrust Murni
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa mekanisme gempa Pacitan berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal (58 km).
Hal ini merupakan ciri khas aktivitas zona subduksi, di mana lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah lempeng Eurasia.
"Patut disyukuri bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 karena dapat berpotensi tsunami," ungkap Daryono.
Meski demikian, dampak kerusakan mulai dilaporkan, termasuk satu rumah rusak berat di Pacitan serta beberapa kerusakan ringan di Wonogiri, Bantul, dan Sleman.
Mengapa Megathrust Dikatakan 'Menunggu Waktu'?
Istilah "tinggal menunggu waktu" yang sempat viral kembali ditegaskan oleh BMKG.
Wilayah selatan Jawa, termasuk segmen Selat Sunda dan Mentawai-Siberut, masuk dalam kategori seismic gap.
Ini adalah wilayah yang secara historis pernah mengalami gempa dahsyat (seperti tahun 1699 dan 1780), namun sudah lebih dari dua abad tidak melepaskan energinya.
Namun, Daryono memberikan klarifikasi penting bagi masyarakat.
Bukan prediksi, pernyataan tersebut bukan berarti gempa akan terjadi besok atau dalam waktu dekat.
Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara akurat.
Akumulasi energi, "Menunggu waktu" artinya segmen tersebut sedang dalam proses pengumpulan tegangan (stress) karena segmen-segmen di sekitarnya sudah pecah (release).
Rekam Jejak Tsunami di Pesisir Selatan
Pacitan memiliki sejarah kelam terkait tsunami, yakni pada tahun 1840 dan 1859.
Secara geografis, Pacitan sangat rentan karena memiliki banyak teluk dan pantai sempit yang dapat memperkuat amplitudo gelombang tsunami jika terjadi gempa besar.
Sejumlah studi bahkan menyebutkan bahwa jika zona Megathrust Jawa pecah secara maksimal, potensi tsunami dengan ketinggian puluhan meter bisa terjadi sepanjang pesisir selatan Jawa.
Mitigasi di Wilayah Madiun Raya
Guncangan gempa Pacitan kemarin terasa hingga skala IV MMI di Pacitan, Bantul, dan Sleman, serta skala III MMI di Ponorogo, Magetan, Ngawi, dan Madiun.
Hal ini membuktikan bahwa wilayah pedalaman seperti Madiun tetap terdampak guncangan meski berjarak cukup jauh dari pesisir.
Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, Jangan termakan isu hoaks mengenai prediksi waktu gempa.
Periksa bangunan, pastikan rumah memiliki struktur yang aman atau pahami titik teraman di dalam rumah.
Akses informasi resmi, selalu pantau aplikasi InfoBMKG untuk data terkini.
Kejadian di Pacitan pada awal Februari 2026 ini menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi bencana dan kesiapsiagaan mandiri. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani