Jawa Pos Radar Madiun - Ancaman gempa megathrust di sepanjang zona subduksi Sumatera terus menjadi perhatian serius para pakar geologi dan kebencanaan.
Menjawab tantangan tersebut, Profesor Jose Rizal, Guru Besar dari Universitas Bengkulu (Unib), memimpin riset inovatif dengan mengembangkan model matematika terintegrasi untuk memperkuat analisis risiko dan mitigasi bencana di wilayah tersebut.
Inovasi ini hadir di tengah keterbatasan pendekatan konvensional yang cenderung menganggap kejadian gempa bersifat stabil dan independen.
Padahal, interaksi antar lempeng di Indonesia yang berada di pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik sangat dinamis dan kompleks.
Tiga Pendekatan Utama Prof Jose Rizal
Model matematika yang dikembangkan Profesor Jose Rizal dirancang untuk menangkap heterogenitas wilayah, dinamika waktu, dan ketergantungan spasial antar segmen lempeng.
Terdapat tiga kerangka pemodelan stokastik utama yang digunakan:
1. Model Campuran Gaussian
Digunakan untuk merepresentasikan heterogenitas magnitudo maksimum gempa. Pendekatan ini memahami bahwa data gempa berasal dari beberapa rezim berbeda, bukan satu distribusi tunggal.
2. Hidden Markov Models (HMM)
Diterapkan untuk menangkap dinamika temporal laten atau proses bawah permukaan yang tidak terlihat langsung. Aktivitas gempa dipandang sebagai transisi antara keadaan aktif dan tenang.
3. Model Copula
Digunakan untuk menggambarkan ketergantungan spasial dan potensi transfer tegangan antar segmen megathrust. Teknik ini mengukur hubungan antar segmen untuk analisis risiko yang lebih presisi.
Temuan Riset: Segmen Aceh dan Mentawai Jadi Sorotan
Menggunakan data gempa periode 1970 hingga 2022, riset ini menganalisis beberapa segmen krusial seperti Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, dan Mentawai.
Hasil pemodelan menunjukkan beberapa poin penting.
1. Risiko Tinggi di Utara
Visualisasi model memperlihatkan risiko gempa yang sangat tinggi pada segmen Aceh.
2. Variasi Masa Tenang
Model mengidentifikasi variasi periode masa tenang di Mentawai berkisar antara 35 hingga 170 tahun. Hal ini sejalan dengan studi paleoseismik mengenai potensi gempa besar dan tsunami di kawasan tersebut.
3. Magnitudo Maksimum
Riset mencatat adanya potensi magnitudo maksimum hingga 9,1 di zona yang diteliti.
Daftar 14 Zona Megathrust Berdasarkan Peta Terbaru
Selain riset dari Universitas Bengkulu, pembaruan peta risiko gempa 2024 oleh Guru Besar ITB, Iswandi Imran, menunjukkan kontur yang lebih rapat, mengindikasikan peningkatan risiko di sejumlah wilayah.
Berikut adalah daftar zona megathrust dengan potensi magnitudo maksimalnya:
Aceh-Andaman: M 9,2
Nias-Simeulue: M 8,7
Batu: M 7,8
Mentawai-Siberut: M 8,9
Mentawai-Pagai: M 8,9
Enggano: M 8,9
Jawa: M 9,1
Jawa Bagian Barat: M 8,9
Jawa Bagian Timur: M 8,9
Sumba: M 8,9
Sulawesi Utara: M 8,5 (Meningkat dari estimasi sebelumnya)
Palung Cotobato: M 8,3 (Zona baru yang berdampak ke Talaud)
Filipina Selatan: M 8,2
Filipina Tengah: M 8,1
Model terintegrasi ini diharapkan dapat menjadi alat analisis risiko yang lebih akurat dalam penyusunan peta bahaya nasional dan perencanaan infrastruktur tahan gempa.
Dengan pengelolaan risiko yang efektif, dampak sosial dan ekonomi akibat bencana alam di masa depan dapat diminimalisir. (*)
Editor : Mizan Ahsani