Jawa Pos Radar Madiun - Nama Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto terus menjadi bahan perbincangan publik berkat keberaniannya mengkritisi sistem pemerintahan dan pendidikan di Indonesia.
Ternyata, ketajaman berpikir Tiyo yang ia tunjukkan dalam mengkritisi program Makan Bergizi Gratis alias MBG bukanlah hal instan.
Ia telah jatuh cinta pada dunia filsafat sejak masih duduk di bangku SMP.
Dalam podcast Terus Terang Media, Tiyo mengungkapkan kegelisahannya terhadap sistem pendidikan Indonesia yang ia nilai terlalu bersifat mengatur layaknya bos, ketimbang mengamalkan ajaran Ki Hajar Dewantara.
Terinspirasi Gaya Filsafat Nietzsche
Kecintaan Tiyo pada filsafat bermula saat ia membaca buku "Gaya Filsafat Nietzsche" karya Romo A Setyo Wibowo saat SMP.
Meskipun saat itu ia mengaku belum sepenuhnya paham, buku tersebut memberinya perspektif berbeda dibanding anak-anak seusianya.
"Ada orang baik yang mengenalkan saya ke dunia itu, orang baik ini ayah kedua saya," ujar Tiyo mengenai sosok yang membawanya ke sebuah diskusi hingga ia bisa mendapatkan buku tersebut langsung dari penulisnya.
Ketua BEM UGM Lulusan Omah Dongeng Marwah
Latar belakang pendidikan Tiyo terbilang unik.
Ia memilih jalur non-formal di SMA dengan bersekolah di PKBM Omah Dongeng Marwah, sebuah sekolah alam alternatif di Kudus yang didirikan oleh aktivis 98, Hasan Aoni.
Sekolah ini membentuk jiwa pemberontak dan kritisnya melalui lingkungan yang penuh pengalaman dan diskusi aktivisme.
Dengan mimpi yang besar, Tiyo akhirnya berhasil menembus Filsafat UGM melalui jalur UTBK hingga terpilih menjadi Ketua BEM.
Mahfud MD Beri Dukungan dan Pembelaan untuk Tiyo Ardianto
Keberanian Tiyo dalam bersuara mendapatkan apresiasi dari eks Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD.
Mahfud menilai anak muda seperti Tiyo harus dilindungi oleh negara karena menyampaikan kritik secara rasional, sopan, dan berbasis data.
"Saya terus terang, bangga. Kalau anak-anak berani tidak dibina, lalu diteror, itu kan negara ini enggak sehat," tutur Mahfud MD mengomentari tekanan yang dialami aktivis mahasiswa saat ini. (naz)
Editor : Mizan Ahsani