Jawa Pos Radar Madiun - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berada dalam pusaran kritik tajam dari berbagai lapisan masyarakat.
Sorotan utama tertuju pada masalah tata kelola, efektivitas, hingga transparansi anggaran yang dinilai belum optimal.
Di tengah perdebatan ini, dua sosok menonjol, yaitu Dharma Pongrekun dan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, muncul dengan perspektif kritik yang berbeda namun saling menguatkan.
Baca Juga: Soal Dugaan Teror Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, Menteri HAM Natalius Pigai Bilang Begini
Dharma Pongrekun Sampaikan Kritikan
Dharma Pongrekun mengambil posisi yang sangat frontal dengan menyuarakan penghentian total program MBG.
Ia bahkan mengajak masyarakat untuk membubarkan Badan Gizi Nasional (BGN) karena menganggap program ini bermasalah secara mendasar.
Beberapa poin keberatan yang muncul dalam narasi Dharma antara lain:
-
Kualitas dan Distribusi: Keluhan mengenai kualitas makanan dan ketidakmerataan distribusi di lapangan.
-
Efisiensi Anggaran: Adanya dugaan pemborosan anggaran negara.
-
Alternatif Solusi: Menyarankan pengalihan dana ke sektor pendidikan gratis penuh atau bantuan langsung kepada wali murid.
Tiyo Ardianto Desak Reformasi Tata Kelola dan Transparansi
Berbeda dengan pendekatan Dharma yang cenderung destruktif terhadap program, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto lebih menekankan pada aspek akuntabilitas.
Tiyo tidak meminta pembubaran, melainkan menuntut pemerintah untuk membuka data secara jujur kepada publik.
Tiyo menyoroti empat pilar struktural yang harus diperbaiki:
-
Keterbukaan Anggaran: Memastikan setiap rupiah dikelola secara transparan.
-
Standar Gizi: Pemenuhan standar nutrisi yang dijanjikan pemerintah.
-
Pengawasan Independen: Perlunya mekanisme audit menyeluruh dan pengawasan dari pihak luar.
-
Tindak Lanjut Keluhan: Mekanisme respons pemerintah terhadap masukan masyarakat.
Meski berbeda gaya, keduanya berada di poros yang sama dalam menuntut tanggung jawab pemerintah.
Dharma Pongrekun memberikan tekanan keras dari luar sistem untuk mengguncang kebijakan, sementara Tiyo Ardianto mengawal dari ruang akademik untuk memastikan mekanisme demokrasi dan teknis tetap berjalan pada relnya.
Kritik lintas generasi ini menandakan bahwa MBG bukan lagi sekadar urusan logistik makanan siswa, melainkan telah menjadi simbol kepercayaan rakyat terhadap tata kelola anggaran negara.
Keberlanjutan program ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjawab keraguan publik melalui pembuktian yang transparan dan tepat sasaran. (naz)
Editor : Mizan Ahsani