Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah ketegangan militer yang meningkat antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada awal Maret 2026, kekhawatiran akan krisis energi global mulai membayangi.
Namun, Pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa langkah mitigasi telah diambil untuk mengamankan stok energi nasional dari sumber-sumber di luar Timur Tengah.
Langkah ini diambil guna memastikan resiliensi ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun situasi geopolitik dunia sedang dalam kondisi yang sulit diprediksi.
1. Dari Mana Sumber Energi Alternatif Indonesia?
Pemerintah telah melakukan diversifikasi pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan Timur Tengah yang sedang bergejolak.
Dua jalur utama yang telah diamankan adalah:
-
Akses di Venezuela: Melalui PT Pertamina (Persero), Indonesia memiliki akses langsung ke pasokan minyak di Amerika Selatan.
-
Kesepakatan Dagang dengan AS: Indonesia telah menandatangani Agreement of Reciprocal Trade (ART) dan nota kesepahaman (MoU) dengan Amerika Serikat untuk suplai energi jangka panjang.
2. Detail Belanja Energi US$ 15 Miliar dari Amerika Serikat
Berdasarkan dokumen kesepakatan dagang resiprokal terbaru, Indonesia berkomitmen untuk mengimpor komoditas energi senilai 15 miliar dolar AS dari Amerika Serikat guna memperkuat cadangan nasional. Rincian alokasi tersebut meliputi:
-
Bensin Hasil Kilang: 7 Miliar Dolar AS.
-
Minyak Mentah: 4,5 Miliar Dolar AS.
-
Liquefied Petroleum Gas (LPG): 3,5 Miliar Dolar AS.
3. Bagaimana Dampaknya Terhadap APBN dan Subsidi?
Menko Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah belajar banyak dari lonjakan harga energi saat konflik Rusia-Ukraina terdahulu. Strategi pemerintah saat ini menggunakan APBN sebagai peredam kejut (buffer).
“Di satu sisi, subsidi kita jaga agar tidak memberatkan masyarakat. APBN itu sebagai buffer untuk meredam fluktuasi harga. Namun di sisi lain, jika harga komoditas naik, tentu ada tambahan penerimaan negara,” ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/3).
Baca Juga: Trump Tak Peduli Iran Tampil di Piala Dunia 2026, FIFA Belum Berikan Pernyataan Resmi
4. Mengapa Investor Cenderung Wait and See?
Ketidakpastian global akibat konflik AS-Iran membuat para investor cenderung menahan ekspansi.
Menurut Airlangga, dalam kondisi dunia yang baru (the new world), daya tahan atau resiliensi ekonomi menjadi faktor penentu bagi masuknya investasi.
Meski langkah mitigasi telah berjalan, pemerintah tetap waspada karena situasi masih sangat dinamis.
“Kita tentu melihat situasinya, masih too early to call (terlalu dini untuk menyimpulkan),” tambah Airlangga.
Ringkasan Strategi Mitigasi Energi RI 2026:
| Aspek | Langkah Strategis |
| Sumber Pasokan | Diversifikasi ke Venezuela (Pertamina) dan Amerika Serikat (MoU ART). |
| Nilai Kontrak AS | Total USD 15 Miliar (LPG, Minyak Mentah, dan Bensin). |
| Fungsi APBN | Sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat melalui subsidi. |
| Fokus Utama | Membangun resiliensi ekonomi untuk menjaga kepercayaan investor. |
(naz)
Editor : Mizan Ahsani