(foto: bmkg.go.id)
Jawa Pos Radar Madiun - Perjalanan mudik Lebaran Idul Fitri 2026 diprediksi akan menghadapi tantangan alam yang cukup berat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman cuaca ekstrem.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, memprakirakan cuaca selama periode angkutan mudik akan didominasi curah hujan tinggi. Intensitasnya bervariasi mulai dari ringan, sedang, hingga hujan lebat di sejumlah wilayah jalur lintas pemudik.
Wilayah yang berpotensi diguyur hujan lebat mencakup Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Banten, hingga Bali dan Nusa Tenggara. Kondisi hidrometeorologi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari seluruh masyarakat yang hendak pulang kampung.
Baca Juga: Pendaftaran Mudik Gratis Pemkot Cilegon 2026 Dibuka Hari Ini! Cek Rute dan Cara Daftarnya
Ancaman Nyata Infrastruktur Jalan dan Rel
Pengamat transportasi, Deddy Herlambang, menyoroti curah hujan tinggi sebagai musuh utama infrastruktur transportasi darat. Jalan raya arteri maupun tol yang terus-menerus diguyur hujan sangat berisiko mengalami kerusakan lebih cepat.
Menurut Deddy, perbaikan infrastruktur jalan yang hanya mengandalkan metode tambal sulam diyakini tidak akan bertahan lama. Lubang jalan yang tertutup genangan air berpotensi memicu kemacetan parah hingga meningkatkan angka kecelakaan lalu lintas.
Tidak hanya jalan aspal, jalur kereta api juga dinilai sangat rentan terdampak cuaca ekstrem. Hujan lebat yang memicu banjir di sekitar lintasan rel membutuhkan langkah mitigasi khusus dari pihak operator agar jadwal perjalanan tidak lumpuh total.
Baca Juga: Mau Mudik Murah? Manfaatkan Diskon Tol 30 Persen di 29 Ruas Ini, Simak Jadwal Lengkapnya
Cuaca buruk ini tentu juga akan sangat memengaruhi jadwal operasional maskapai penerbangan dan kapal penyeberangan laut. Seluruh operator transportasi dituntut untuk terus menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan kondisi cuaca yang aman.
Modifikasi Cuaca Jadi Solusi Strategis
Merespons ancaman hidrometeorologi tersebut, BMKG tidak tinggal diam dan langsung menyiapkan langkah mitigasi operasional di lapangan. Salah satu strategi andalannya adalah menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional dan berbasis kebutuhan.
Langkah modifikasi atau penyemaian awan ini bertujuan menekan intensitas curah hujan secara paksa di wilayah yang rawan terdampak bencana. Operasi ini akan diprioritaskan pada kawasan yang memiliki tingkat mobilitas pemudik paling padat.
Baca Juga: Antisipasi Titik Lelah Mudik 2026, Polda Jatim Siapkan 29 Rest Area Terpadu!
Saat ini, BMKG terus berkoordinasi ketat dengan Kementerian Perhubungan dan PT KAI untuk memetakan titik-titik rawan bencana di sepanjang jalur transportasi. Data kawasan rawan tersebut akan disinkronkan dengan wilayah sasaran prioritas modifikasi cuaca.
Di tengah ancaman cuaca buruk ini, masyarakat sangat disarankan untuk beralih memanfaatkan program angkutan umum massal. Meninggalkan kendaraan pribadi di rumah diyakini dapat meminimalisasi risiko kecelakaan fatal di jalan raya akibat cuaca ekstrem. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura