Jawa Pos Radar Madiun - Program Motor Gratis (MOTIS) kembali menjadi primadona bagi masyarakat yang ingin pulang kampung tanpa harus lelah berkendara di jalan raya.
Namun, agar perjalanan aman dan administrasi lancar, Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) melalui akun resminya mengingatkan para peserta untuk mematuhi sederet aturan main yang ketat.
Kelancaran proses verifikasi hingga pengiriman motor sangat bergantung pada kedisplinan peserta.
Salah satu poin krusial dalam daftar wajib dilakukan adalah memastikan data pendaftaran sesuai dengan identitas asli.
Hal ini penting untuk menghindari kendala saat proses boarding di stasiun keberangkatan.
Selain itu, peserta sangat disarankan untuk datang lebih awal ke stasiun.
Waktu ekstra ini dibutuhkan untuk proses verifikasi fisik kendaraan agar tidak terjadi antrean panjang yang menghambat jadwal keberangkatan kereta cargo.
Pengemasan barang juga perlu diperhatikan; bawalah barang secukupnya dan utamakan yang penting saja agar ruang gerak tetap nyaman dan tidak melebihi kapasitas yang ditentukan.
Di sisi lain, DJKA juga mengeluarkan daftar yang tidak boleh dilanggar.
Memalsukan data atau meminjam identitas orang lain menjadi larangan keras yang bisa membatalkan kepesertaan.
Peserta juga dilarang membawa barang-barang berbahaya (B3) seperti bahan yang mudah terbakar di dalam bagasi motor demi keamanan bersama selama perjalanan di atas rel.
Aspek etika di fasilitas publik juga tak luput dari perhatian. Peserta diminta menjaga kebersihan stasiun dan kereta, serta tidak mengganggu kenyamanan penumpang lain dengan suara gaduh.
Bagi pemudik yang membawa keluarga, diingatkan untuk tidak meninggalkan anak tanpa pengawasan, terutama di area peron yang memiliki mobilitas tinggi.
Baca Juga: Alternatif Mudik Gratis 2026: Program Mudik Asyik BUMN dan Angkutan Motis Kemenhub Resmi Dibuka
Dengan mengikuti arahan petugas dan memanfaatkan layanan informasi resmi untuk mengecek jadwal serta rute, mudik "nebeng" MOTIS tahun ini dipastikan bakal lebih nyaman dan berkesan hingga sampai di kampung halaman.(*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani